Uncategorized

Terlalu Lama “Menjomblo” Memperpendek Umur

Tidak semua orang yang melajang merasa hidupnya tidak bahagia atau kesepian. Namun, mereka yang masih jomblo dan mengalami kesepian ternyata berumur lebih pendek. Para ahli menyebut bahwa kesepian lebih mematikan daripada obesitas dan harus dianggap sebagai risiko kesehatan masyarakat.

Sebuah tinjauan penelitian tentang kesepian menemukan bahwa mereka yang memiliki hubungan sosial yang buruk berisiko mengalami kematian dini lebih tinggi 50 persen dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial yang baik.

Terhubung dengan orang lain secara sosial dianggap sebagai kebutuhan manusia yang mendasar. “Ini penting bagi kesejahteraan dan kelangsungan hidup,” kata profesor psikologi dan penulis utama penelitian, Dr.Julianne Holt-Lunstad.

Dia memberikan contoh ekstrem pada bayi dalam perawatan kustodi yang tidak memiliki kontak manusia sering gagal berkembang dan meninggal.

“Isolasi sosial atau kurungan isolasi telah digunakan sebagai bentuk hukuman,” tambahnya.

Merasa kesepian dianggap membuat orang merasa lebih buruk secara mental dan fisik. Mereka yang kesepian juga cenderung mengalami gejala yang lebih parah ketika sakit.

Peneliti dari Amerika Serikat mengamati 218 studi tentang efek kesehatan dari kesepian dan isolasi sosial. Ternyata, isolasi sosial meningkatkan risiko kematian seseorang hingga 50 persen, sementara risiko kematian karena obesitas hanya 30 persen.
Saat ini di negara-negara maju memang banyak orang yang merasa kesepian dan tidak punya seseorang yang bisa diajak berbicara tentang perasaan mereka. Orang berusia di atas 50 tahun di Inggris, menurut survei, yang paling sering mengalami kesepian.

Pada dasarnya setiap orang pernah mengalami kesepian, bahkan pada orang yang memiliki banyak teman. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengusir kesepian, misalnya saja bergabung dengan komunitas hobi, memperbarui ikatan persahabatan atau persaudaraan yang mulai longgar, atau pun terlibat dalam aktivitas sosial sebagai relawan.
Ariska Puspita Sari

Tetap Optimis

Walau sulit, tetap optimistis. Inilah salah satu teladan yang melekat pada diri Rasulullah. Nilai ini pula yang beliau tanamkan kepada para sahabat dan umatnya.

Sikap optimistis memang sangat dibutuhkan. Sebab, hidup di dunia hanya mengenal dua keadaan, yaitu susah dan senang. Keduanya silih berganti mengisi hari-hari kita dalam hidup ini. Dua keadaan ini akan menjadi batu ujian bagi setiap manusia. Lulus atau tidak, bergantung pada bagaimana menyikapinya.

Dalam kondisi senang, optimistis bukanlah sesuatu yang berat. Namun, dalam situasi sulit, terkadang tidak mudah menghadirkannya. Sebab, yang selalu terbayang adalah hal-hal yang buruk. Padahal, untuk bisa lulus dan bangkit dari keterpurukan, modalnya adalah optimistis.

Itulah sebabnya Rasulullah begitu gigih dalam menanamkan nilai yang satu ini. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis.” Maka ditanyakanlah kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis?” Beliau bersabda, “Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian.” (HR Ahmad).

Beberapa peristiwa dalam sejarah menunjukkan sikap optimistis Rasulullah SAW yang tidak pernah redup. Kala berdakwah di Makkah, penolakan dan ancaman adalah menu yang selalu beliau cicipi setiap hari. Namun, beliau tetap melangkah. Hingga akhirnya beliau memilih untuk pergi ke Thaif dan menyebarkan dakwah Islam di sana.

Namun, apa yang terjadi? Penolakan penduduk Kota Thaif tak jauh berbeda dengan warga Makkah. Di situlah tampak jelas betapa tinggi optimisme beliau. Saat dua malaikat menawarkan menimpakan dua gunung besar kepada penduduk Thaif, kalimat indah meluncur dari lisan beliau, “Jangan, semoga lahir dari keturunan mereka yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.” (HR Bukhari).

Sikap optimistis adalah warisan berharga para nabi. Hampir setiap nabi pernah berhadapan dengan situasi yang sangat sulit. Namun, tak seorang pun di antara mereka yang menunjukkan sikap pesimistis, apalagi sampai meninggalkan tugas yang mereka emban. Mereka tetap melangkah dengan penuh keyakinan Allah akan membantu.

Kisah Nabi Musa salah satu contohnya. Saat berada dalam kejaran Firaun, setelah berlari cukup jauh, ia dan umatnya harus berhadapan dengan lautan yang luas. Rasa cemas menggelayuti umatnya. Bahkan, ada yang mengatakan, “Sungguh Firaun pasti akan mendapati kita.” (QS as-Syu’ara: 61). Namun, dengan penuh optimisme, “Musa mengatakan, sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku yang akan memberikan petunjuk kepadaku.” (QS as-Syu’ara: 62).

Optimistis adalah ajaran ilahi. Sumber dan asal usulnya adalah berbaik sangka kepada Allah, kepada takdir dan ketentuan-Nya. Ibnu Hajar al-Asqolani berkata, “Sesungguhnya Rasulullah menyukai optimisme karena pesimisme adalah buruk sangka kepada Allah dan optimisme adalah berbaik sangka kepada-Nya.” (Fathul Bari).

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada takdir, yaitu mengimani bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah dan kebaikan. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sikap optimistis. Amin.

Ahmad Rifai

Ternyata Orang Produktif Sering Bersantai

Tidak semua orang bisa menjadi manusia super produktif, meskipun telah mencoba bekerja sepanjang waktu. Bahkan, terkadang kita merasa sibuk tetapi tidak ada satupun pekerjaan yang selesai.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa otak hanya bisa bekerja selama 8 jam dalam satu hari.

Dalam rentang waktu delapan jam tersebut, kita tetap harus beristirahat selama 17 menit setiap kali bekerja dalam durasi 52 menit. Ini terdengar seperti hanya membuang-buang waktu saja, namun ternyata efeknya membuat seseorang lebih produktif.

Penelitian yang dilakukan oleh The Draugiem Group mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa mereka yang bekerja tidak lebih dari delapan jam sehari, bahkan kurang, justru lebih produktif dalam hasil pekerjaannya.

Adapun penelitian dilakukan dengan bantuan apikasi DeskTime (aplikasi pelacak waktu) untuk melihat pola kerja karyawan. Ditemukan bahwa 10 persen karyawan yang paling produktif justru menerapkan alur kerja stop-and-go dengan rasio waktu serupa.

Mengapa bisa begitu? Logikanya, saat otak jenuh maka kita tidak bisa memikirkan apapun. Kita perlu menjernihkan pikiran dengan beristirahat sejenak agar pikiran kembali segar dan mampu melahirkan ide-ide cemerlang. Itu sebabnya fokus bekerja dalam jangka waktu tertentu lalu mengambil istirahat menjadi solusi yang tepat.

Bagi mereka yang tidak bisa beranjak dari meja kerja, solusinya bisa menggunakan 25 menit waktu anda untuk fokus pada pekerjaan, lalu beristirahat selama lima menit. Setelah empat kali interval waktu itu, ambilah istirahat dengan durasi lebih lama, yakni 15 menit.

Nah, bila Anda ingin mencoba trik ini, cobalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk beristirahat :

1. Menelepon orang yang anda cintai. Anda bisa menelepon orang yang anda cintai untuk sekedar menanyakan kabar atau curhat. Mendengar suara orang yang kita cintai dapat memperbaiki suasana hati kita.

2. Buat Rencana Liburan. Coba lihat kalender anda. Barangkali anda menemukan event lokal sepeti festival makanan, rencana perjalanan, atau memesan tempat di restoran baru yang anda inginkan. Menyelesaikan rencana yang dibuat dapat menciptakan kemajuan dalam hidup anda

3. Bersihkan dompet. Anda tidak perlu menyimpan nota, kupon atau permen kadaluarsa dalam dompet anda.

4. Perbarui software komputer/laptop. Anda juga perlu memberi waktu istirahat pada komputer anda. Mungkin karena terlalu sering dipakai, ada beberapa software yang belum sempat anda perbarui.

5. Menggambar. Jangan khawatir meski kemampuan menggambar Anda buruk. Cukup luangkan waktu anda untuk mengasah kreativitas di atas kertas.

6. Cobalah mengasah otak agar lebih cerdas, seperti bermain teka-teki silang.

Ariska Puspita Anggraini

Literasi Antihoaks Perlu Masuk Kurikulum

Pendidikan literasi antihoaak atau kabar bohong perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Langkah itu penting untuk membentengi masyarakat sejak dini dari banjir berita palsu di media sosial.

Demikian benang merah dalam seminar “Memerangi Hoax, Memperkuat Media Siber Nasional,” dalam rangka Hari Kebebasan Pers Dunia di Jakarta, Senin (1/5). Seminar tersebut diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

“Pemerintah perlu memasukkan literasi media baru (media sosial) ke kurikulum pendidikan nasional. Hoaks sudah menjadi masalah besar yang harus diselesaikan secara sistematis,” kata Direktur Indonesia New Media Watch Agus Sudibyo di Jakarta.

Pendidikan literasi antihoaks bisa diterapkan mulai dari sekolah dasar. Ini bertujuan agar sejak dini anak secara benar menggunakan telepon genggam pintar dan arif dalam bersosialisasi di media sosial.

Agus tidak menampik upaya yang saat ini dilakukan pemerintah dan sejumlah elemen masyarakat sipil dengan sosialisasi dan pembentukan forum. Namun, mengingat hoaks telah diproduksi dan disebarkan secara masif, langkah tersebut tak cukup untuk membendungnya. Ia mencontohkan Korea Selatan telah lama menerapkan pendidikan literasi media baru yang membuat masyarakat tidak terprovokasi kabar bohong.

Pakar kelirumologi Jaya Suprana menyampaikan pendidikan literasi antihoaks (media baru) diperlukan agar masyarakat memiliki ketahanan sosial. Dengan ketahanan sosial, masyarakat terbiasa memilah informasi atau berita yang benar dari yang bohong.

Jaya menyebutkan hoaks adalah “anak haram” demokrasi. Disebut demikian karena kebebasan berpendapat sebagai anak kandung demokrasi disalahpraktikkan menjadi kebebasan untuk menghina dan memfitnah orang lain.

Deputi IV Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo menanggapi, untuk jangka panjang pendidikan literasi antihoaks memang diperlukan. Sementara untuk jangka pendek, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memproduksi dan menyebarkan konten media sosial yang bernilai positif, baik dari lingkup skala lokal maupun nasional. “Di satu sisi, kita mengalami kejenuhan terhadap hoaks di media sosial. Namun, di sisi lain kita tidak punya konten-konten positif. Ini yang akan gencar dilakukan, terutama untuk kalangan muda,” ucapnya.

Lebih keras

Terkait dengan media arus utama (cetak, elektronik, siber) yang memproduksi berita hoaks, Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Wina Armada Sukardi berpandangan sanksi atas hal tersebut harus lebih keras. Misalnya, wartawan yang menulis dan menyebarkan hoaks tersebut diberhentikan. “Langkah ini penting agar kebebasan pers dapat dipraktikkan dengan tanggung jawab besar,” ujarnya.

Untuk saat ini, Wina mengusulkan perlu dibentuk pusat informasi antihoaks yang independen. Forum ini akan menjadi referensi bagi masyarakat untuk mengecek apakah informasi atau berita yang beredar itu berisi hoaks atau kebenaran.