Secular Radicalism: The Real Blasphemy

Gerakan untuk memisahkan antara politik dan agama menuai banyak kecaman. Ide sekulerisme patut dicurigai, hendak dibawa kemana bangsa ini sebenarnya.

Secara genetik, sekulerisme membawa sifat dasar blasphemic yakni menghujat, menista, menfitnah dan ketiadaan  rasa hormat terhadap Tuhan dan agama.

Jika sifat blasphemic ini disematkan kepada agama selain Islam, seperti Kristen misalnya, mungkin bisa dipahami karena selain agama ini memang agama ritualistik semata, juga secara historis lahirnya sekulerisme adalah akibat perseteruan kaum intelektual kristen dengan para pendeta diseputar gugatan doktrin Kristen yang anti sains.

Karena itu dalam negara yang mengadopsi ideologi sekulerisme seperti Indonesia, Islam sering dinistakan. Sudah sering terjadi kasus-kasus penistaan dan penghinaan terhadap Alquran, Nabi Muhammad dan Islam itu sendiri.

Istilah sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang oleh Naquib al-Attas diistilahkan dengan paham kedisinikian adalah ideologi Barat yang menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya.

Dalam paradigma  sekuler, kehidupan harus diatur berasaskan kepada rasional, ilmu dan sains. Paham pemisah antara agama dan dunia ini menganggap kewujudan sebenarnya adalah melalui pancaindera bukan unsur-unsur rohaniah dan metafisik yang sukar dikesan melalui kajian modern.

Prinsip lainnya adalah bahwa nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia bukannya teks agama. Bahkan menganggap alam ini terjadi melalui fenomena sains dan kimia tertentu bukannya refleksi kuasa Tuhan.

Sementara Islam adalah agama dan peradaban sekaligus. Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai.

Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai)

Dari pengertian Islam, maka muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah taala. Yakni mewakafkan wujudnya untuk Allah, mengikuti kehendak-kehendakNya, serta untuk meraih keridhaanNya. Kemudian dia berdiri teguh diatas perbuatan-perbuatan baik demi Allah semata. Dan dia menyerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah. Artinya, secara akidah dan secara amalan, dia telah menjadi milik Allah semata.

Dalam perspektif paradigmatik, ideologi sekulerisme yang lahir dari Barat ini jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai contoh pandangan Islam terhadap alam semesta sangat bertentangan dengan pandangan sekulerisme.

Menurut Islam, pandangan terhadap alam semesta bukan hanya berdasarkan akal semata sebagaimana pandangan sekulerisme. Alam semesta dalam Islam  difungsikan untuk menggerakkan emosi dan perasaan manusia terhadap keagungan al-Khaliq, kekerdilan manusia dihadapanNya, dan pentingnya ketundukkan kepadaNya. Artinya, alam semesta dipandang sebagai dalil qath’i yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah

Gelombang modernisme peradaban Barat dengan basis sekuler-liberal ke dunia Islam merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Perdaban Barat Modern tidak memperdulikan aspek kemanusiaan. Pendidikan modern Barat telah menghilangkan keyakinan kaum muda muslim terhadap agamanya. Padahal keyakinan adalah aset terpenting dalam kehidupan seseorang.

Melalui hegemoni sekulerisme, dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman pemurtadan yang menyelimuti bayang-bayang diatasnya dari ujung-ke ujung.

Inilah pemurtadan yang telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah. Filsafat materialisme Barat tak diragukan lagi adalah “agama” terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam.

Secara historis, sekulerisme di tangan Kemal Attaturk telah menjatuhkan keagungan Islam kekhilafahan Turki Ustmani dalam jurang kenistaan. Turki yang islamis berubah total menjadi Turki teracuni oleh peradaban Barat yang amoral.  Meski  perindu Islam masih ada di Turki, namun kelompok Kemalis masih terus menghantui masa depan Turki. Gerakan kudeta yang berhasil digagalkan pekan kemarin adalah bukti empiris akan tesis ini.

Islam adalah ilmu dan peradaban, agama dan pemerintahan yang oleh sekulerisme hendak dipisahkan. Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” *(HR. Ahmad)*.

Namun pada hakikatnya paham sekulerisme sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Al Qashash dalam kitabnya Usus Al-Nahdha Al -Rasyidah adalah pemisahan agama dari kehidupan manusia atau pemisahan Tuhan dari kehidupan manusia

Dengan karakteristiknya yang pragmatis duniawi, maka konsep sekulerisme tentang makna kebahagiaan juga bertolak belakang dengan pandangan Islam.

Sekulerisme memandang kebahagiaan adalah tercapainya kebutuhan materi semata tanpa mengindahkan cara untuk memperolehnya. Sumber kebahagiaan dalam sekulerisme dengan demikian adalah faktor yang berada di luar dirinya, yakni materi.

Sementara Islam memandang kebahagiaan adalah berasal dari dalam diri manusia. Faktor-faktor luar seperti kemakmuran, kekayaan, keluarga, kedudukan, pengetahuan, adalah faktor penunjang. Sifatnya hanya sebagai penyempurna, setelah faktor dominatifnya sudah ditemukan.  Seseorang tidak akan mungkin menemukan kebahagiaan yang dicari di luar dirinya. Kebahagiaan hanya akan ditemukan di dalam diri sendiri.

Alquran maupun sunah Rasul telah memberikan jawaban bahwa faktor dominatif yang menyebabkan orang bisa memperolah kebahagiaan adalah sakinatul qalb atau ketenangan hati. Yaitu hati yang dipenuhi dengan kuatnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bertindak sesuai dengan Alquran dan sunnah.

Dengan demikian, dalam pandangan Islam, kebahagiaan itu memiliki dua faktor. Pertama, faktor dominan yaitu berupa sakinatul qalb atau ketenangan hati karena adanya iman dan kedekatan kepada Allah. Sifatnya inner self, di dalam diri. Kedua faktor penunjang seperti kekayaan, jabatan, kesehatan dan sebagainya, yang sifatnya berada di luar diri manusia. Karena sifatnya menunjang, kekayaan, kesehatan, dan sebagainya itu melengkapi faktor dominan.

Dengan kata lain, faktor dominan itu mesti ada untuk timbulnya kebahagiaan. Jika tidak adanya faktor dominan menyebabkan kebahagiaan akan hilang. Akan tetapi, tidak adanya faktor penunjang belum tentu kebahagiaan seseorang hilang dari dirinya. Idealnya memang sesorang memilki faktor dominan dan penunjang sekaligus, sehingga kebahagiaan yang diperolehnya sempurna.

Kontaminasi racun sekulerisme di segala bidang sangat membahayakan aqidah kaum muslimin. Apalagi jika telah merasuki bidang pendidikan. Ciri sistem pendidikan yang sekuleristik adalah yang mengesampingkan etika dan moral anak didik. Sebab moral dianggap sebagai masalah pribadi dengan Tuhannya. Mereka memisahkan antara agama dengan kehidupan. Agama dicampakkan dalam ranah indivudi bukan publik.

Sistem pendidikan sekuleristik dengan demikian adalah sistem pendidikan yang tidak bertuhan. Apa jadinya jika produk pendidikan adalah manusia tanpa etika. Apa jadinya manusia tidak memiliki moral. Islam sangat mementingkan moral sebagai landasan kehidupan manusia.

Sebab jika manusia minus moral, maka tak ubahnya seperti binatang. Etika memiliki peran yang fundamental dalam sistem pendidikan Islam.

Di bidang politikpun, sekulerisme bisa menjadi racun mematikan. Paham sekulerisme dengan sistem demokrasinya telah merusak kemuliaan tujuan politik dengan lahirnya politik tak beretika.

Sekulerisasi politik telah mengakibatkan tumbangnya pilar-pilar fundamental dalam mengurus rakyat dan mengelola sumber daya alam. Politik yang telah terkontaminasi sekulerisme menjelma menjadi politik pragmatis transaksional.

Perilaku politikus yang hedonis, rakus kekuasaan, abai terhadap kepentingan  rakyat, tidak amanah, opportunis dan anti-syariah bahkan hingga korupsi, suap dan fitnah mewarnai polah politik sekuler. Sekulerisme ini juga membahayakan jika telah merasuki bidang ekonomi dan budaya.

Ekonomi kapitalisme yang hanya mengayakan segelintir manusia dan memiskinkan jutaan manusia lainnya tanpa mengindahkan nilai-nilai etika adalah karakteristik ekonomi sekuler.

Timbangan kapitalisme adalah materialisme, hanya mengejar keuntungan materi tanpa memperdulikan hukum halal dan haramnya. Istilah pertumbuhan dalam sistem ekonomi kapitalis adalah pertumbuhan semu, sebab hanya fokus kepada produksi dan abai terhadap distribusi.

Sementara prinsip ekonomi Islam adalah ekonomi berbasis nilai kebajikan untuk kesejahteraan dan keberkahan banyak orang, sehingga lebih fokus kepada distribusi.

Budaya sekuler adalah budaya hedonis dan liberal yang bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu. Budaya sekuler memberikan peluang kepada manusia untuk berekspresi sebebas-bebasnya tanpa batas-batas kepantasan dan nilai religius.

Pergaulan bebas, seks bebas, minuman keras, dan hiburan amoral  adalah sedikit contoh budaya sekuler. Sementara Islam menjadikan budaya sebagai penghalus rasa dan sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk membendung paham sekulerisme di segala bidang, harus menjadikan Alquran dan As Sunnah sebagai sumber pemikiran dan perilaku. Rasulullah bersabda, “ telah aku tinggalkan kepada mu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Alquran dan Sunnah” *(HR. Bukhari)*

Bahkan Allah mengancam dengan kerusakan kehidupan manusia jika mengadopsi sekulerisme dan membuang hukum Allah.  “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. *(QS Thaha : 124)*

Sifat blasphemik sekulerisme telah menjadi pangkal segala kerusakan peradaban manusia. Daya rusak blasphemik sekulerisme meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Saatnya menegakkan Islam dan tinggalkan sekulerisme, jika masih punya impian bagi kebaikan negeri ini.

Jika ada istilah Islam radikal, itu hanya tuduhan Barat untuk merusak citra Islam, sebab Islam adalah agama dan ideologi terbaik yang datang dari Allah. Tapi jika disebut Barat sebagai radikalisme sekuler yang menjadi biang kerok kerusakan kehidupan manusia, ini adalah kenyataan. Secular radicalism is the real blasphemy.

Karena itu gerakan revolusi Islam dengan dakwah syariah dan khilafah untuk menggantikan ideologi kapitalisme sekuler atau komunisme ateis selain rasional juga sebuah keharusan.

Ahmad Sastra
Dosen Filsafat UIKA Bogor

Membeli Orang Kritis

Di mana ya bisa membeli orang kritis? Tentu di bidang yang ia kritik. Bagaimana caranya membeli orang kritis? Bisa dengan berbagai cara.

Setidaknya ada dua cara yang paling persuasif. Yang pertama, dengan penawaran jabatan. Orang kritis jika diberi jabatan di bidang yang ia kritisi, jelas memberinya ruang segar untuk mengaktualisasikan kemampuan (potensi) yang ia miliki.

Yang kedua, bisa dengan penawaran komisi. Orang kritis biasanya banyak ide untuk perubahan. Ia pun akan rela berkorban besar demi mewujudkan kritisannya itu. Karenanya, bisa jadi juga ia memerlukan dana/komisi untuk membiayai segala kritisannya agar tak sekedar bertajuk angan-angan.

Tapi bagaimana pun, kedua cara di atas adalah strategi yang menyimpan potensi bahaya menuju terbelinya orang-orang kritis ini. Atas hal ini, pihak-pihak yang dikritisi justru telah menyimpan ‘kartu As’ orang-orang kritis. Orang-orang kritis ini dapat berkurang kekritisannya jika diberi jabatan atau dana. Maksudnya, seseorang yang diberi dana akan membela kepentingan pemberi dana. Dan secara fakta, hal ini sungguh terjadi dalam praktik politik praktis saat ini.

Sekedar contoh saja sebagai pembelajaran kita. Masih ingat Andi Malarangeng (AM)? Saat momentum reformasi 1998, ia menjadi ikon aktivis muda yang kritis terhadap penguasa. Popularitasnya tak terbendung, membius semua kalangan yang rindu perubahan pascatitik jenuh Orde Baru.

Namun apa yang terjadi beberapa tahun setelahnya? Yakni ketika ia menjadi anak emas penguasa. Kekritisannya sungguh berbalik 180 derajat, menjadi kesetiaan yang luar biasa kepada rezim. Yang seperti ini, sangat lekat dengan makna kedua jenis persuasi kepada orang kritis tadi, untuk membuktikan ia telah terbeli.

Contoh lain sosok yang telah terbeli, namun terkhusus untuk merangkul kalangan umat Islam, misalnya ketika ada seorang politisi suatu parpol yang mengatakan bahwa penguasa saat ini seperti Khalifah Umar bin Khaththab ra. Juga ketika ada mantan seorang kritis yang kini telah menjadi orang Istana, dengan lugas menyatakan bahwa penguasa saat ini adalah wakil Tuhan. Atau sosok-sosok lain, yang telah berubah jurus argumentasinya. Yang sebelumnya kritis, sekarang jadi membela yang bayar.

Proses ‘membeli’ dan ‘terbeli’ inilah yang kemudian menjadi deal-deal politik hingga membentuk sosok para politisi kutu loncat. Apatah kalimat yang layak bagi sosok-sosok serupa AM kecuali ia memang telah terbeli? Toh sistem kehidupan di negeri kita memang meniscayakan nominal biaya untuk sekedar mencari kader politik. Konsep ‘wani piro’ sudah umum dilakukan. Semua itu demi pendulangan suara kala berlaga di pesta demokrasi. Padahal kesetiaan pada uang dan jabatan, tiada yang abadi. Uang dan jabatan itu sendiri pun cepat atau lambat, akan habis dan sirna.

Nindira Aryudhani

Kekuatan Malu

Bicara malu sepertinya  sederhana, padahal hanya dengan modal malu, anak bangsa bisa mengubah wajah Indonesia. Sebab malu adalah salah satu cabang dari iman.

Seorang wartawan bercerita tentang liputan yang dilakoninya. Ia bertemu dengan satu aparat yang pangkatnya masih belum tinggi. Gaji resminya mungkin sekitar lima jutaan saja. Akan tetapi di pergelangan tangannya tersemat  arloji super  mewah seharga empat kali gaji bulanannya.

Sulit untuk berprasangka baik atau melihat sisi positif dari kondisi tersebut. Kalau itu jam palsu dan murahan, berarti melanggar hukum. Jika asli dan dibeli dengan cara menabung, berarti boros dan tidak bijak menentukan prioritas kebutuhan. Misal dibeli sendiri dari pekerjaan lain berpenghasilan lain besar di luar profesi, berarti tidak fokus bekerja. Andai hadiah, berarti gratifikasi.

Anehnya, meski mungkin mengundang prasangka negatif, ia dengan bangga mengenakannya tanpa malu, tanpa rasa bersalah bahkan terkesan pamer.

Sosoknya hanya contoh kecil. Di Indonesia mungkin ada puluhan ribu pejabat publik yang bergelimang harta bukan dari jalur  halal, akan tetapi  tanpa rasa malu berani memamerkannya.

Tidak jarang rumah paling mentereng di real estate dimiliki pejabat publik, padahal  kalau berbicara gaji murni, tentu tak akan sanggup membelinya.

Malu. Kita krisis malu. Seandainya  setiap pejabat publik punya rasa malu, niscaya korupsi hilang di Indonesia. Jika saja rasa malu berhasil ditanamkan dan menjadi budaya yang mengakar, maka nyaris semua permasalahan akan selesai.

Sering kali kita melihat jalanan macet, tapi tidak ada petugas berwenang yang turun mengatasi. Kadang malah terlihat asyik berlindung di dalam pos penjagaan. Fenomena yang  tidak akan  terjadi jika mereka punya malu.

Macet yang rutin berlangsung pun akan bertahap teratasi, jika para pejabat malu sebab masalah ini tidak pernah selesai berpuluh-puluh tahun. Akan tetapi, di masa lalu alih-alih malu karena tidak becus mengatasi kemacetan, banyak yang justru menyalahkan jumlah mobil dan kepadatan penduduk. Khusus untuk masalah ini, Alhamdulillah secara bertahap mulai ada perbaikan.

Apa lagi?

Kapal-kapal mengantre berhari-hari hingga berminggu atau berbulan hanya untuk punya kesempatan merapat di pelabuhan. Keterlambatan yang mengakibatkan biaya ekonomi tinggi. Jika semua pejabat terkait punya rasa malu, tentu ini tidak akan terjadi.

Bencana banjir atau asap yang setiap tahun datang dan seharusnya bisa diantisipasi, tetap saja terjadi. Jika pejabatnya punya rasa malu, pasti akan bersungguh-sungguh mencari jalan keluar.

Buku, CD, dan film bajakan, saat ini beredar di mana-mana. Kasat mata masyarakat bisa melihat pelanggaran hukum yang tidak menghargai karya anak bangsa. Kreativitas yang semestinya menjadi tulang punggung ekonomi tidak dilindungi. Seandainya saja setiap aparat berwenang punya rasa malu, niscaya akan tuntas diberantas.

Preman merajalela, pemalakan di mana-mana. Membangun markas di sudut jalan atau di pemukiman rumah penduduk. Meresahkan, tapi tidak ada yang berani menindak. Tidak akan  muncul jika pihak berwenang punya rasa malu. Bagaimana mungkin ada penguasa kecil dan ilegal menginjak-injak hukum di wilayah mereka, tentu dengan cepat para preman ini akan mudah dipecundangi.

Pemborosan juga terjadi di segala sektor. Para pejabat yang punya kantor besar dan megah dengan   belasan ruang rapat dan pertemuan, justru menyelenggarakan rapat di hotel mewah atau menyewa gedung pertemuan swasta. Seandainya ada setitik rasa malu,  pemborosan seperti ini tidak mungkin terjadi.

Kita harusnya malu, sebagai salah satu negara dengan pantai terpanjang di dunia masih mengimpor garam.

Kita harusnya malu, negara sekecil Singapura kekuatan ekonominya berpuluh kali lipat, bahkan menjadi investor terbesar di Indonesia- negara yang memiliki ribuan pulau kecil dan bahkan sebagian besar masih tak bernama.

Kita harusnya malu dengan segala minyak, emas, gas alam, dan sumber daya melimpah tapi tetap saja rakyatnya belum sejahtera.

Kita harusnya malu, negara dengan tambang emas terbesar di dunia, kini rakyatnya terancam cacat karena ratusan pertambangan emas ilegal yang menggunakan merkuri, tersebar di mana-mana dan merusak lingkungan.

Seandainya saja semua pejabat (Alhamdulillah masih ada satu dua yang punya dedikasi), penguasa, pihak berwenang,  punya rasa malu, niscaya Indonesia bebas dari kemiskinan, kerusakan, dan ketertinggalan.

Mari pulihkan semangat malu yang kian terkikis, hingga ketidakpatutan bertebaran di mana-mana. Malu, harus malu, sebab di tumpah darah tercinta  Allah sudah menganugerahkan segalanya.

Asma Nadia

Ketika Media Sosial Menjadi “Agama” dan “Kitab Suci” Baru

INDONESIA baru mengenal demokrasi yang sebenar-benarnya 20 tahun lalu, tepatnya tahun 1998 ketika terjadi pergolakan dan terjadi wolak-waliking perpolitikan Indonesia. Tahun 1999 pidato pertanggungjawaban Presiden Habibie ditolak oleh MPR/DPR, Presiden Habibie turun.

Kemudian Pemilu 1999 berlangsung dan mulailah era hobi bergaduh politik di Indonesia. PDI-P menang, namun pihak-pihak dan golongan yang tersenggol kepentingan dengan segala cara, termasuk menggunakan alasan agama untuk menyingkirkan lawan politik.

Di sinilah pertama kali agama dijadikan kemasan politik. Terbentuklah Poros Tengah dan menggeser Megawati yang sedianya menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia ketika itu. Poros Tengah menarik Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia Ke-4.

Poros Tengah salah kalkulasi dan salah prediksi, ternyata karakter Gus Dur membuat morat-marit dunia persilatan politik Indonesia ketika itu.

Dur diturunkan karena nyaris mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen. Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden Republik Indonesia Ke-5 sekaligus menjadi presiden perempuan pertama Republik Indonesia.

Di era Megawati digodok aturan baru pemilihan presiden secara langsung untuk tahun 2004. Kita semua menyaksikan gegap gempitanya pilpres langsung pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia.

Walaupun Demokrat bukanlah pemenang Pemilu 2004, tapi gebrakan perolehan suara partai pendatang baru sudah mengejutkan jagat politik Indonesia dan tidak menghalangi Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden Republik Indonesia Ke-6 sekaligus presiden pertama hasil pemilihan langsung.

Pilpres langsung pertama ini ada lima pasangan calon: Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Di tahun 2003-2004 belum ada media sosial seperti hari ini. Yang ada maksimal blog dan beberapa situs pertemanan ‘tradisional’ era pra-Facebook dan juga beberapa chatroom (MSN, Yahoo Messenger, ICQ, mIRC).

Kehebohan gegap gempita pemilihan presiden langsung pertama kali di Indonesia hanya bisa kita ikuti di media massa arus utama, internet masih merupakan ‘barang mewah’ hanya tersedia cukup luas di rumah-rumah dengan provider layanan internet terbatas (dial dan kemudian terdengar suara berkeciap sebelum tersambung internet), sementara platform seluler masih jarang dan sangat mahal. Tentu saja kecepatan internet ketika itu jauh jika dibandingkan sekarang.

Perlahan terjadi perubahan yang luar biasa cepat dimulai dengan masuknya Facebook ke Indonesia sekitar tahun 2007-2009, dan mulai terjangkaunya internet di platform seluler oleh masyarakat lebih luas.

Di Pemilu 2009 pemilihan presiden langsung untuk kedua kalinya, Demokrat menang dan SBY melanjutkan periode kedua pemerintahannya. Di masa ini, sudah mulai terjadi polarisasi seteru para pendukung calon presiden pilihannya karena pilihannya hanyalah tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden; SBY-Budiono, Megawati- Prabowo, JK-Wiranto, dibandingkan dengan Pilpres 2004.

Dengan hanya tiga pasangan calon otomatis para pendukungnya lebih mengerucut mendukung pasangan calon masing-masing. Namun jagat virtual belumlah segaduh hari ini. Dengan koalisi-koalisi tiga pasangan calon, kekuatan politik sebarannya lebih merata.

Pada waktu pemilihan presiden 2009 baru dimulai ‘demam’ orang Indonesia berinteraksi dengan yang disebut BBM – BlackBerry Messenger. Saat ini baru berinteraksi, belum bersosialisasi apalagi bergedubrakan di media sosial ataupun grup seperti hari ini.

Facebook sudah ada namun hanya di laptop atau desktop (kebanyakan akses justru di kantor). Produk bergambar apel kroak, iPhone, masih di generasi awal-awal dan merupakan barang papan atas yang tidak semua orang sanggup membelinya dan di masa itu masih kalah jauh dengan demam BlackBerry.

Berita dan komunikasi yang berseliweran di BBM kadar nyinyirnya masih sangat-sangat rendah. BBM menggunakan PIN khusus yang harus ditanyakan dan ditambahkan serta disetujui atas seizin yang bersangkutan, sehingga tidaklah semasif grup-grup WhatsApp seperti hari ini.

Kemudian datanglah dentuman masif media sosial itu! Momentum awal adalah Pilkada/Pilgub DKI Jakarta 2012. Tahap awal pengenalan ‘mainan baru’ media sosial, tidaklah menimbulkan riak gelombang.

Berikutnya adalah Pilpres 2014, di tahun inilah bentuk-bentuk baru bermunculan, hoaks, penyesatan informasi, caci maki terbuka sampai editing foto dan artikel juga dihalalkan.

Ada kubu yang menghalalkan segala cara termasuk menerbitkan tabloid khusus menggempur salah satu pasangan capres-cawapres. Tidak kalah militannya adalah kubu yang di-framing dengan tabloid tersebut. Fanatisme dan militansi dua kubu setara dan setanding.

Dan puncaknya adalah Pilkada DKI 2017, dunia internasional menyaksikan sontak di Indonesia muncul “agama” baru, yaitu media sosial beserta “nabi-nabi”-nya. Baik yang mendeklarasikan diri sendiri sebagai “nabi-nabi” baru media sosial dengan segala gelarnya ataupun yang ditahbiskan oleh para pengikut “agama” baru itu.

Dua kubu sama-sama militan dan fanatik, saling mengejek sudah menjadi keseharian “agama” baru ini. Cebong, IQ200 sekolam, bani taplak, bani serbet, bumi datar, dan masih banyak lagi.

Semuanya tidak sadar sebenarnya sedang diperdagangkan oleh para pemilik big data “agama” baru media sosial tersebut. Anda pengguna Facebook aktif? WhatsApp dan segenap grupnya? Instagram? Twitter? Line?

Sadarkah Anda apa yang nampak di halaman-halaman “kitab suci” media sosial itu adalah targeted preferences? Mesin pencari (Google. Yahoo, Bing, Baidu) newsfeed, Facebook newsfeed dari wall teman-teman, berita di seluruh “renungan harian “kitab suci”” (linimasa) media sosial adalah berita yang Anda sukai.

Berita atau informasi yang bertentangan dengan preferensi Anda tidak akan muncul di halaman media sosial Anda.

Contoh: untuk para pengguna pendukung petahana Presiden Joko Widodo akan melihat semua hal positif dan baik pemerintahan Jokowi dan yang jelek-jelek dari kubu oposisi. Sebaliknya, untuk para pengguna pendukung Prabowo, akan melihat semua yang positif tentang Prabowo dan semua yang jelek tentang Jokowi. Sadarkah Anda?

Yang menjadi masalah di sini adalah jika big data media sosial tadi kemudian diolah menjadi senjata kampanye digital seperti yang terjadi dalam Pilpres Amerika Serikat, Hillary Clinton vs Donald Trump.

Cambridge Analytica mengolah data 87 juta pengguna Facebook (termasuk 1 juta-sekian pengguna Indonesia) untuk diumpankan ke newsfeed masing-masing layar targeted pengikut “agama” baru (media sosial) itu.

Konon, pemesan kampanye digital tersebut adalah dari Kubu Trump, yang muncul di publik Amerika adalah semua hal yang negatif tentang Hillary Clinton dan semua yang positif tentang Donald Trump.

Alhasil kita semua tahu hasilnya hari ini. Sebegitu masifnya kampanye digital yang tidak mengenal batasan halaman cetak dan waktu terbit, terbukti merasuki alam bawah sadar ataupun atas sadar para pemilih Amerika.

Who knows, ketika heboh referendum Brexit (British Exit) yang menghasilkan keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga dipengaruhi dari preferential targeted audience/viewer? Dari semua jajak pendapat mayoritas tidak setuju keluar dari UE, warga Inggris kaget dan menyesal kenapa hasil referendum justru kebalikannya.

Akan terus terseretkah Anda semua dalam tarikan magis “agama” dan “kitab suci” baru ini? Sebagian besar pengikut “agama” baru sangat mengimani kebenaran semua “sabda” dan “fatwa” halaman-halaman “kitab suci” “agama” baru ini.

Self-awareness mutlak diperlukan. Selain itu kematangan intelektual dan kematangan pemahaman dunia digital masyarakat Indonesia bisa dibilang masih sangat rendah. Bahkan negara superpower seperti Amerika Serikat tidak steril dari terpaan “agama” baru serta “kitab suci agama” baru ini, bagaimana Indonesia?

Hanya bisa berharap dan berdoa semoga Pemilu dan Pilpres 2019 Indonesia dijauhkan dari tsunami pengaruh negatif media sosial ini yang sudah menjadi semacam “agama” dan “kitab suci” baru di negeri ini. God bless Indonesia.

Aji Chen Bromokusumo

Membaca ‘Il Principe’ karya Machiavelli di Tahun Politik

Bagi yang suka politik bisa jadi politik itu main-main, bahkan diidentikan dengan ‘seni mencapai tujuan’. Namun orang seperti Winston Churchil pernah mendampat habis para politisi. Menurutnya politisi orang yang bisa ‘berlidah sejuta’. Dia bisa berjanji tentang apa saja serta berkilah apa saja. Churchil mencontohkan bahkan bila seorang politis berjanji dalam tiga bulan bisa mewujudkan dibangunnya sebuah jembatan, tapi ketika masa tiga bulan sudah dilewati dan jembatan tidak terbangun, maka politisi pasti punya ‘alasan’ mengapa jembatan itu tidak terbangun. Layaknya lagu klasik Ismail Marzuki ’Tinggi Gunung Seribu Janji’ semua gampang diucapkan oleh lidah yang memang tak bertulang.

Nah, di tengah suasana tahun politik dan menjelang pelaksanaan pilkada menjadi ‘nikmat’ untuk membaca kembali buku klasik karya Niccolò Machiavelli: Il Principe. Edisi buku ini dalam bentuk PDF tersebar di dunia maya, meski terkesan jarang dibaca orang. Membaca buku serius bagi banyak orang tetap dianggap tak menarik, lebih yahud main Facebook atau media sosial lainnya,

Dalam pengantar buku itu yang diulas oleh M Sastrapratedja & M Parera, dinyatakan buku il Principe (Sang Penguasa) yang ditulis oleh Machiavelli  itu bertolak dari profil dan pola manajemen kekuasaan semasa Cesare Borgia, di Florence, Italia. Cesare Borgia, putra sulung Alexander VI hasil perkawinan dengan Vannoza de Cataneis. Buku yang dialihbahasakan oleh C Woekirsari dan diterbutkan oleh PT Gramedia tahun 1997 itu terdiri 26 chapter.Buku Il Prince di tulis pada selama tujuh tahun, yakni 1512-1519. Dalam kata pengantarnya, buku ini termasuk salah satu buku yang disebut- sebut punya kontribusi dalam proses perubahan dunia seperti kita saksikan sekarang terutama dalam membangun kultur politik pada masa modern ini.

Bahkan kisah ini sejatinya juga sudah pernah dilakukan di jaman kerajaan Mataram Jawa. Dalam catatan kaki kata pengantar dengan mengutip disertasi Dr Soemarsaid Moertono, ‘Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau, Studi tentang Masa Mataram II, Abad XVI Sampai XIX,  diterbitkan Yayasan Obor Indonesia tahun 1985.

Begini tulis Soemarsaid:

“Pada tahun  1512  ketika Machiavelli mulai memaparkan pandangan pandangannya tentang kekuasaan penguasa negara yang sudah dicopot perlengkapan magis-religius karena sudah masuk dalam proses sekularisasi kekuasaan, jejak-jejak terakhir Majapahit menghilang dari peredaran sejarah.

Kesultanan Malaka yang menjadi pusat penyebaran  agama Islam ke Indonesia baru saja direbut oleh Portugis tahun 1511). Dalam Abad XVII Amangkurat I, pengganti Sultan Agung (1613-1645), merasa terancam karena perlengkapan magis religius kekuasaannya digerogoti oleh prinsip egalitarianisme Islam, yang diperkenalkan oleh guru-guru Islam. Raja itu memerintah untuk membunuh ratusan guru Islam (membakar pesantren di sepanjang tepian Bengawasan Solo hingga Gresik,red) beserta keluarganya demi mempertahankan perlengkapan magis-religius kekuasaannya”.

Lalu apa yang menarik hingga buku Il Principe ’nikmat’ dibaca. Ya, salah satunya adalah terdapat dalam bab ke  XVIII, ‘Bagaimana Raja Harus Setia Memegang Janji’. Raja dimaksudkan kala itu dengan masa sekarang sebagai pelaku atau pekerja politik (politisi).

Atau sesosok orang yang  disebut Presiden Prancis masa kini, Emmanuel Macron, politisi adalah mereka yang mengambil politik sebagai pekerjaan bukan sebagai panggilan nurani untuk kebaikan sesama dan negara. Akibatnya, wajar bila politisi sering dianggap pejoratif’ sebagai sosok orang yang melakukan segala cara. Padahal sejatinya sejak zaman Aristoteles politik adalah hal mulia.

Tapi baiklah berikut ini kutipan tulisan dalam bab ke XVIII buku ‘Il Principe itu’:

Setiap  orang menyadari betapa terpuji kesetiaan dan sifat terbuka seorang pemimpin daripada sifat berbelit-belit dalam  segala tindakannya. Namun pengalaman sekarang ini menunjukkan bahwa  para raja yang telah berhasil melakukan hal-hal yang besar adalah mereka yang menganggap gampang atas janji- janji mereka, mereka yang tahu bagaimana memperdayakan orang dengan kelihaiannya dan yang akhirnya menang terhadap mereka yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran.

Anda hendaknya tahu, bahwa ada dua cara berjuang: melalui hukum atau melalui kekerasan. Cara pertama merupakan cara yang wajar bagi manusia dan yang kedua adalah cara bagi binatang. Tetapi karena cara pertama kerap kali terbukti tidak memadai, orang lalu menggunakan cara kedua. Dengan demikian seorang raja harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara binatang dan manusia.

Para penulis kuno mengajarkan kepada para raja mengenai alegori ini, yaitu waktu menguraikan bagaimana Achilles dan banyak raja lainnya dari zaman kuno dikirim untuk dididik oleh Chiron, manusia berkepala binatang, supaya mereka dilatih dengan cara ini.

Arti alegori ini ialah,dengan menjadikan guru itu setengah manusia dan setengah binatang, seorang raja harus mengetahui bagaimana bertindak menurut sifat dari baik manusia maupun binatang dan ia tidak akan hidup tanpa keduanya. Dengan demikian, karena seorang raja terpaksa mengetahui cara bertindak seperti binatang, ia harus meniru rubah dan singa;  karena singa tidak dapat membela diri sendiri terhadap perangkap dan rubah (serigala,red) tidak dapat membela diri terhadap serigala.

Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan  seperti singa untuk menakuti serigala. Mereka yang hanya ingin bersikap seperti singa adalah orang  bodoh. Sehingga, seorang penguasa yang bijaksana tidak harus memegang janji kalau dengan demikian ia akan merugikan diri sendiri dan  kalau alasan yang mengikat sudah tidak ada lagi.

Seandainya semua orang baik hati, anjuran ini pasti tidak baik. Tetapi karena manusia adalah makhluk yang jahanam yang tidak menepati janji, Anda tidak perlu menepati janji pula pada manusia lain. Dan seorang raja tidak akan pernah kehabisan alasan untuk menutupi ketidaksetiaannya, dengan menunjukkan  betapa banyak perjanjian dan persetujuan yang dilakukan oleh para raja ternyata kosong dan tidak bernilai karena raja tidak  memegang janji: mereka yang paling tahu meniru rubah adalah yang terbaik.

Tetapi orang harus mengetahui bagaimana menutupi tindakan-tindakannya dan menjadi pembohong dan penipu yang ulung. Manusia bersifat sederhana dan begitu banyak manusia di sekitarnya, sehingga penipu akan selalu menemukan seseorang yang siap untuk ditipunya.

Selanjutnya Machiavelli menulis:  Ada satu contoh yang masih hangat yang tidak akan saya lewatkan. Alexander VI selalu dan hanya memikirkan bagaimana menipu orang lain. Ia selalu menemukan korban penipuannya. Tidak pernah ada orang yang mampu mengatakan dengan sangat meyakinkan atau begitu mudah bersumpah atas kebenaran sesuatu dan yang tidak menghormati janji.

Namun tipuan-tipuannya selalu menghasilkan apa yang diinginkannya. Karena ia ulung dalam menguasai ilmu menipu.Karena itu, seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik yang saya sebutkan di atas, tetapi ia tentu saja harus bersikap seakan-akan memilikinya.

Saya bahkan berani mengatakan bahwa jika ia memiliki sifat-sifat ini dan selalu bertingkah laku sesuai dengannya ia akan mengalami bahwa sifat-sifat tersebut sangat merugikannya. Jika ia nampaknya saja memilikinya, sifat-sifat tersebut akan berguna baginya. Ia sebaiknya nampak penuh pengertian, setia akan janji, bersih dan alim. Dan memang ia seharusnya demikian.

Tetapi situasinya harus demikian. sehingga jika ia juga memerlukan sifat kebalikannya, ia mengetahui bagaimana menggunakannya. Anda harus menyadari hal ini: seorang raja dan khususnya seorang raja baru, tidak dapat menaati semua hal yang menyebabkan orang dipandang hidup baik, karena untuk mempertahankan negaranya ia kerap kali terpaksa bertindak berlawanan dengan kepercayaan orang, belas kasih, kebaikan dan agama. Dan karena itu disposisinya harus luwes, berubah seirama dengan bimbingan keberuntungan dan keadaan.

Sebagaimana saya utarakan di atas, ia tidak boleh menyimpang dari yang baik, jika itu mungkin, tetapi ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat, jika perlu.Oleh sebab itu, seorang raja haruslah sangat hati-hati untuk tidak mengatakan sepatah kata pun yang tidak nampak terilhami oleh lima sifat yang saya sebutkan di atas. Bagi mereka yang menghadap dan mendengarkan dia, dia harus tampak bersikap penuh pengertian, seorang yang dapat dipercaya kata-katanya, seorang yang matang dewasa, seorang yang baik budi dan alim. Dan tidak ada hal yang lebih penting untuk bersikap seakan-akan memiliki kedua sifat terakhir tersebut.

Orang pada umumnya menilai sesuatu lebih berdasarkan apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka rasakan. Karena orang dapat melihat, tidak banyak yang mampu berhubungan dekat dengan Anda. Setiap orang melihat Anda tampil, sedikit saja yang mengetahui siapa Anda sebetulnya. Dan mereka yang sedikit jumlahnya itu tidak berani melawan orang banyak yang didukung oleh kebesaran negara. Tindakan manusia pada umumnya dan khususnya tindakan para raja, kalau tidak ada urusan pengadilan, dinilai menurut akibatnya. Karena itu biarlah raja melakukan tugas untuk menaklukaan dan memerintah negara; cara-caranya akan selalu dinilai luhur dan akan dipuji dimana pun juga.

Rakyat biasa selalu terkesan oleh penampilan dan hasil. Dalam hubungan ini, hanya ada rakyat biasa dan tidak ada tempat bagi mereka yang berjumlah sedikit karena yang banyak mendapat dukungan negara. Seorang penguasa tertentu zaman kita sekarang ini, yang lebih-baik tidak disebut namanya, tidak pernah berkotbah kecuali tentang perdamaian dan kesetiaan. Dan dia adalah musuh dari kedua hal tersebut dan seandainya ia pernah menghormati salah satu dari kedua hal tersebut, pasti ia akan berkali-kali kehilangan negara dan kedudukannya.

Jadi itulah yang ada di buka Buku Il Principe karya Machiavelli!

Muhammad Subarkah

Wirausahawan Sosial, Apa Itu?

Mungkinkah sebuah entitas bisnis bervisi sosial? Bukankah pebisnis hanya sekadar mengejar keuntungan? Atau sebaliknya, hanya yayasankah yang bisa bergerak dalam usaha- usaha menangani masalah sosial?

Pertanyaan sejenis sudah sering bermunculan tetapi tak terjawab dengan tuntas. Wirausahawan sosial menjadi makhluk baru yang perlu dilihat.

Ya, wirausahawan sosial memang makhluk baru di Indonesia. British Council mengajak berbagai pihak untuk melihat lembaga-lembaga terkait kewirausahawan sosial di Inggris, yang muncul di benak hanyalah perusahaan dan yayasan. Perusahaan adalah entitas bisnis yang berusaha memaksimalkan keuntungan, sedangkan yayasan bergerak lebih banyak usaha sosial tetapi tak boleh mengejar keuntungan.

Di antara perusahaan dan yayasan ada wirausaha sosial. Sebenarnya wirausaha sosial (social enterprise) sudah muncul di dalam buku-buku teks kuliah pada tahun 1960-an sampai 1970-an. Baru kemudian pada 1980-an hingga 1990-an wirausaha sosial menyebar dan berkembang. Di Inggris, salah satu penggerak waktu itu adalah Bill Drayton, yang mendirikan wirausaha sosial bernama Ashoka.

”Kami mendefinisikan wirausaha sosial sebagai entitas bisnis yang tujuan utamanya bersifat sosial. Keuntungan yang didapat dari usahanya dinvestasikan kembali untuk mencapai tujuan sosial itu atau untuk kepentingan sosial. Kewirausahaan sosial lebih dari sekadar didorong oleh keinginan untuk memaksimalkan profit bagi pemegang saham atau pemilik,” kata Manajer Promosi Wirausaha Sosial dan Kebudayaan Kantor Kementerian Urusan Sektor Ketiga Tamsyn Roberts.

Definisi

Dengan definisi seperti itu, sebenarnya di Indonesia sudah terdapat wirausaha sosial, seperti Bina Swadaya. Lembaga ini mencari keuntungan melalui beberapa unit bisnisnya, tetapi keuntungan itu diinvestasikan kembali untuk membantu masyarakat kecil dan juga petani.

Ada juga beberapa lembaga dengan cara mengajukan berbagai proyek ke perusahaan-perusahaan untuk mengerjakan sejumlah proyek yang bersifat sosial, seperti pendidikan dan perbaikan lingkungan. Lembaga ini mengambil keuntungan dari proyek-proyek yang dikerjakan, tetapi keuntungan itu untuk diinvestasikan kembali bagi tujuan sosialnya.

Ada pula yayasan atau lembaga swadaya masyarakat yang juga mengelola unit usaha. Keuntungan yang didapat dari usaha itu digunakan untuk kegiatan sosial mereka. Mereka terbantu dengan keberadaan unit usaha ini karena menjadikan mereka tidak tergantung sepenuhnya kepada penyandang dana.

Namun berbeda dengan Indonesia, di Inggris lembaga-lembaga wirausaha sosial itu mendapat pengakuan pemerintah. Di samping perusahaan dan yayasan, Pemerintah Inggris mengakui keberadaan wirausaha sosial itu. Bahkan, pengakuan itu diwujudkan dalam bentuk keberadaan Kementerian Urusan Sektor Ketiga yang di dalamnya mengurus wirausaha sosial. Penyebutan sektor ketiga untuk memperlihatkan keberadaan lembaga yang berada di antara pemerintah dan swasta. Pengakuan itu juga diwujudkan dalam bentuk penggelontoran dana-dana yang diperebutkan berbagai wirausaha sosial melalui berbagai proyek yang diusulkan oleh lembaga wirausaha sosial. Meski dana tersebut tidak hanya murni dari pemerintah, pemerintah berhak mengecek manfaat penerima dana itu. Hal ini untuk menjamin dana tersebut tidak disalahgunakan oleh penerima.

Wirausahawan sosial yang mendapat dana kemudian mengerjakan proyek yang sudah tentu harus bermanfaat bagi masyarakat, seperti penciptaan lapangan pekerjaan, pengurangan jumlah warga yang tidak memiliki rumah, dan perbaikan lingkungan. Pemerintah kemudian akan mengaudit dana-dana yang disalurkan itu. Pemerintah mengecek manfaat yang diterima oleh masyarakat yang menjadi subyek dalam proyek-proyek itu.

”Dana utama kami berasal dari Millenium Award Trust, sebuah warisan bernilai 100 juta poundsterling dari The Milenium Commission,” kata Direktur Pengembangan UnLtd Zulfiqar Ahmed, sebuah lembaga wirausaha sosial yang mengerjakan berbagai proyek dari dana itu. Pengakuan keberadaan wirausaha sosial oleh pemerintah Inggris dilakukan karena pada kenyataannya lembaga tersebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan menjawab berbagai tantangan masalah sosial dan lingkungan. Wirausaha sosial juga diyakini mendorong hal-hal yang bersifat etis dalam bisnis, memperbaiki pelayanan publik, dan pada kenyataannya wirausaha sosial menciptakan wirausahawan-wirausahawan baru untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat.

Pengakuan

Sebagai wujud pengakuan itu, kantor Kementerian Urusan Sektor Ketiga mengadakan berbagai kegiatan untuk mendorong kinerja wirausaha sosial. Mereka memberi penghargaan, memberi akses yang lebih besar dalam hal pembiayaan, dan dukungan bisnis bagi lembaga wirausaha sosial.

Perkembangan lembaga wirausaha sosial di Inggris telah melahirkan pula lembaga-lembaga konsultasi, pengembangan studi tentang wirausaha sosial di sejumlah perguruan tinggi, bahkan hingga lembaga yang menyediakan jasa fasilitas rapat dan pertemuan untuk sektor ketiga.

Hal lain yang menarik adalah lembaga wirausaha sosial memberi peluang untuk sejumlah sukarelawan aktif bergerak di dalam lembaga itu. Meskipun lembaga wirausaha sosial merupakan lembaga bisnis tetapi dengan tujuan-tujuan yang bersifat sosial, lembaga ini memberi peluang bagi sukarelawan untuk terlibat.

Yang mungkin menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan pengelolaan karyawan di lembaga wirausaha sosial. Apakah karena bertujuan sosial, kemudian mereka bisa digaji seadanya? ”Kami juga digaji layak. Kami digaji dengan patokan gaji untuk mereka yang bekerja di pelayanan publik. Kalau kami menjabat sebagai manajer, gajinya akan distandarkan dengan gaji manajer untuk lembaga pelayanan publik. Hal yang sama kalau kami menjabat sebagai direktur,” kata Direktur Komunikasi dan Kebijakan School for Social Enterprise Nick Temple berkisah tentang gaji yang didapat di dalam lembaganya.

Perkembangan lembaga wirausaha sosial ini juga mulai menyebar ke luar Inggris. Beberapa negara di Asia juga mulai mengembangkan lembaga wirausaha sosial, seperti Thailand, Jepang, Vietnam, dan Filipina. Sebenarnya lembaga wirausaha sosial sudah ada di hampir banyak negara. Hanya saja pengakuan dari pemerintah belum ada.

Thailand mungkin lebih beruntung. Sejumlah pihak, mulai dari lembaga pemerintah, media, lembaga swadaya masyarakat, pengusaha swasta, hingga pasar modal, pernah berkumpul untuk membicarakan tentang keberadaan lembaga wirausaha sosial. Bahkan, mereka telah membuat peta jalan bagi pengakuan lembaga wirausaha sosial.

Di Indonesia sebenarnya sudah lama lembaga-lembaga wirausaha sosial bermunculan. Sama dengan di beberapa negara di Asia pengakuan tentang lembaga itu belum ada. Pemerintah masih melihat hanya perusahaan dan yayasan sesuai dengan hukum yang ada. Meskipun demikian, wirausahawan sosial telah melangkah.

Andreas Maryoto

Bangsa Besar Manusia Kerdil

Sejarah Indonesia adalah sejarah tentang tokoh-tokoh besar, dengan jiwa dan pikiran besar, serta menghasilkan konsepsi besar untuk Indonesia, bahkan dunia. Maka, tidak sepantasnya bangsa ini menjadi pecundang, bangsa kalah, terjebak dalam kondisi sulit ekonomi (middle trap income). Tak pantas pula bangsa ini seperti ditulis orang asing akan musnah di tahun 2030.

Jika pun kita menemukan kenyataan pahit kondisi bangsa ini jauh dari kebesarannya, mari kita introspeksi diri: barangkali kita semua gagal–atau setidak-tidaknya tidak mampu–mewarisi dan mentransformasi kebesaran Indonesia. Kita gagal membangun kepercayaan diri bangsa Indonesia.

Bangsa Besar

Bangsa besar ditempa oleh keadaan. Begitu kata pepatah. Indonesia yang dijajah ratusan tahun oleh bangsa-bangsa kolonial menempa karakter manusia Indonesia dan mewarnai cara pandang manusia Indonesia tentang dunia.

Salah satu karakter yang melekat kuat pada diri bangsa Indonesia adalah karakter pejuang. Negeri ini pernah dijajah ratusan tahun oleh bangsa kolonial. Blessing in disguise, penjajahan akut ratusan tahun telah melahirkan banyak tokoh pejuang yang mengobarkan semangat perlawanan kepada penjajah. Ada Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Kapitan Pattimura, dan lain-lain.

Sebagai kelanjutan sejarah, Indonesia juga melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional: Tjokroaminoto, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Samanhudi, Cipto Mangunkusumo, Dowes Dekker, Ki Hajar Dewantoro, Kartini. Indonesia merdeka punya Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Natsir, Yamin, Djuanda dan masih banyak lagi.

Hampir seluruh rakyat Indonesia pasti kenal Soekarno atau yang akrab dipanggil Bung Karno. Visinya kuat, narasinya hebat, orasinya dahsyat menggelegar. Ketokohannya bukan hanya melegenda di dalam negeri tapi hingga luar negeri. Di Rusia namanya harum abadi, bahkan salah satu masjid besar di St Petersburgh, terkenal dengan julukan “Masjid Biru” karena corak ornamennya berwarna biru, tapi warga juga mengenalnya sebagai Masjid Soekarno. Tidak hanya itu, banyak negara mengabadikan nama Soekarno sebagai nama jalan seperti Mesir, Maroko, dan Pakistan.

Kalau sekarang publik ramai gegara ada pejabat kita yang mengidolakan pemimpin Rusia Vlademir Putin, ketahuilah Soekarno sudah lama diiodolakan oleh rakyat Rusia. Jangan-jangan Putin juga mengidolakan Proklamator kita itu.

Tahun 1955 ketika dunia terpolarisasi dalam dua blok (Barat dan Timur), Indonesia memimpin negara-negara dunia ketiga melahirkan gerakan Non-Blok dan menggalang kekuatan anti kolonialisme yang sangat masyhur dan kita kenal hingga hari ini sebagai Konferensi Asia Afrika.

Tanggal 30 September 1960, Soekarno menawarkan Pancasila (sebagai konsepsi bangsa Indonesia) untuk diadopsi oleh negara-negara di dunia dalam pidato yang sangat terkenal di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan judul pidato “To Build The World A New.” Isi pidato Bung Karno menggemparkan dunia karena disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api menelanjangi habis-habisan sistem world order yang dibangun Barat berabad-abad yang gagal mendamaikan dan mensejahterakan dunia.

Pancasila sendiri lahir dari gagasan besar para pendiri bangsa. Hebatnya dia tidak lahir dari kondisi ideologi, politik, ekonomi, sosbud (ipoleksosbud) yang monolitik tapi beragam dan berbhinneka. Ada banyak aspirasi dan kepentingan yang minta diakomodir. Aspirasi “Piagam Jakarta” hanya salah satunya, yang akhirnya harus direlakan oleh tokoh-tokoh umat Islam demi kelompok lain dan demi persatuan nasional.

Hanya tokoh dengan jiwa dan pikiran besar yang mampu menghasilkan konsensus Pancasila sebagai common platform bagi bangsa sebesar Indonesia, dan hebatnya lagi lima silanya mencerminkan puncak-puncak peradaban bangsa Indonesia bahkan dunia. Di sinilah, kita berbesar hati untuk mendukung pernyataan Bung Karno, “Tidak ada negara yang persis sama, setiap negara punya identitas dan karakternya sendiri-sendiri.” Ya, Indonesia punya karakter khas yaitu Pancasila. Karakter yang sangat layak dijadikan referensi bagi peradaban dunia.

Sebagian kita tentu kenal Muhammad Natsir, tapi tak banyak yang tahu bahwa beliau yang mengembalikan konsepsi negara kesatuan Indonesia sesuai cita-cita Proklamasi dan Konstitusi RI. Konsepsi NKRI tidak lahir dalam ruang hampa. Pengalaman penjajahan bertahun-tahun memberikan kesadaran sejarah Indonesia mudah dipecah karena terbagi-bagi wilayahnya dalam negara-negara bagian.

Adalah M Natsir, seorang politisi Muslim, pemimpin Partai Masyumi, yang menyadarkan bangsa ini atas taktik penjajah yang belum rela atas kemerdekaan Indonesia. Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) Indonesia harus menerima kenyataan terpecah dalam 17 negara bagian eks bentukan Belanda dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Bukan hanya itu, RIS juga tunduk dalam tekanan Belanda untuk membayar hutang Belanda, mengembalikan hak milik dan memberikan izin baru perusahaan-perusahaan Belanda.

M Natsir datang dengan mosi di Parlemen RIS yang kemudian terkenal dengan “Mosi Integral M. Natsir” 3 April 1950 yang berkehendak kuat mengembalikan Indonesia sebagai negara kesatuan. Tanpa momentum sejarah yang diciptakan Natsir itu, kita tidak akan mengalami Indonesia yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Inilah momentum kedua negara kita dipersatukan oleh tekad yang kuat ke dalam NKRI setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Pemikiran dan perjuangan M Natsir adalah tentang persatuan republik dan pengokohan kedaulatan NKRI. Indonesia memang telah merdeka pada tahun 1945 tapi rongrongan atas persatuan dan kedaulatan republik tidak pernah jeda–setidaknya sampai tahun 1950 itu. Kini, setelah 73 tahun Indonesia merdeka tidakkah kita punya tantangan yang sama? Tidakkah kita merasa ada ancaman eksternal yang merongrong persatuan dan kedaulatan negara kita? Ancaman perang proxy, adu domba sesama anak bangsa, ancaman ekonomi yang datang dari kapitalisme global, perusahaan asing, pekerja migran, produk asing, dll. Adakah kita punya kesadaran dan respon yang sama dengan M Natsir?

Kita juga sangat masghul dengan konsepsi negara kepulauan (archipelagic state) yang kemudian diadopsi oleh dunia. Konsepsi ini murni lahir dari pemikiran Indonesia. Adalah Deklarasi Djuanda 1957 yang menjadi ilham bagi perkembangan konsepsi negara kepulauan. Djoanda sendiri adalah nama Perdana Menteri RI ke-10 Djoanda Kartawidjaja.

Sebelum ada Deklarasi dari Indonesia ini, dunia hanya mengakui wilayah Indonesia adalah 3 mil laut, diukur dari garis air rendah dari pulau-pulau yang termasuk dalam daerah Indonesia.

Ketentuan baru yang termuat dalam Deklarasi Djuanda selanjutnya disebut sebagai Konsep Wawasan Nusantara. Konsepsi nusantara yang bertujuan untuk menjamin kepentingan-kepentingan nasional dan keutuhan wilayah Indonesia.

Melalui konsepsi ini segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar dari pada wilayah daratan negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak negara Republik Indonesia.

Konsepsi Indonesia itu selanjutnya diterima oleh dunia dan diakui dalam Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS 1982 = United Nations Convention on the Law of the Sea) dan tentu saja menjadi berkah tersendiri bagi negara-negara dunia yang memiliki karakteristik wilayah seperti Indonesia. Sekali lagi, bangsa Indonesia membuktikan kebesaran pemikiran dan gagasannya sebagai sebuah bangsa di hadapan dunia.

Manusia Kerdil

Masih banyak lagi fakta sejarah yang membuktikan bahwa Indonesia ini (di luar luas wilayah, kekayaan sumber daya alam dan manusia) adalah negara besar dengan tokoh besar, pemikiran besar, dan konsepsi besar baik bagi Indonesia maupun dunia. Dus, bangsa ini memenuhi semua prasyarat untuk menjadi bangsa yang besar dan bangsa yang digdaya.

Sayangnya, kebesaran bangsa ini belum berwujud aktual saat ini. Belajar dari tokoh besar kita di atas, ini semua soal mentalitas dan kapasitas manusia. Kita mengalami defisit tokoh dan/atau pemimpin yang mampu mengangkat martabat dan kebanggaan bangsa. Kita masih berkutat pada persoalan internal (kemiskinan, ketimpangan, sentimen SARA, eksperimentasi demokrasi, dan lain-lain). Padahal kapasitas kita untuk peradaban dunia: untuk mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi.

Sampai di titik ini, kita patut khawatir–sama seperti kekhawatiran Bung Hatta: kita menemukan zaman/abad besar tapi diisi oleh generasi yang kerdil. Sekali lagi ini, soal mental dan kapasitas jiwa kita manusia Indonesia.

Penulis tutup artikel ini dengan kata-kata Bung Karno: “Tiap- tiap bangsa mempunyai orang-orang besar, tiap-tiap periode dalam sejarah mempunyai orang-orang yang besar, tetapi lebih besar daripada Mahatma Gandhi adalah jiwa Mahatma Gandhi, lebih besar dari Stalin adalah jiwa Stalin; lebih besar daripada Roosevelet adalah jiwa Roosevelt;… lebih besar daripada tiap-tiap orang besar adalah jiwa daripada orang besar itu. Jiwa yang besar yang tidak tampak itu adalah di dalam dadanya tiap-tiap manusia, bahkan kita mempunyai jiwa sebagai bangsa. Maka, kita sebagai manusia mempunyai kewajiban untuk membesarkan kita, punya jiwa sendiri, dan membesarkan jiwa bangsa, kita menjadi anggota daripadanya.”

Danang Aziz Akbarona
Pemerhati Politik Kebangsaan Institute for Social, Law, and Humanities Studies (ISLAH), Kandidat Doktor Manajemen SDM UNJ

Menelanjangi Diri di Media Sosial

Dunia marah pada Facebook. Sekitar 50 juta akun disalahgunakan untuk memenangkan calon presiden Donald Trump pada pemilihan presiden AS 2017. Ini kedua kali penyalahgunaan internet diberitakan telah memengaruhi kemenangan sang presiden negara adikuasa, setelah sebelumnya sejumlah agen Rusia dikabarkan beraksi di dunia maya untuk memenangkan kampanye.

Tagar #deletefacebook viral di berbagai media sosial dan berdampak luas terhadap popularitas Facebook. Dalam waktu singkat beberapa tokoh terkenal dengan jumlah follower besar langsung menutup akun Facebook mereka.

Elon Musk pembuat mobil listrik Tesla dan pendiri SpaceX menutup akunnya yang memiliki 2,6 juta pengikut. Sebuah majalah populer dengan 25 juta pengikut turut menutup akunnya. Artis, tokoh, dan berbagai perusahaan besar mulai menutup akun mereka.

Kekayaan pendiri dan pemilik Facebook, Mark Zuckerberg turun 4,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 67,5 triliun dalam sehari. Saham Facebook merosot tajam hanya dalam waktu sekejap. Beberapa pakar menganalisis setidaknya nilai saham Facebook tergerus hingga 80 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.100 triliun) sejak pemberitaan tersebut.

Ketakutan pasar mulai menular pada saham-saham teknologi lainnya dan ikut memangkas kekayaan para pemiliknya. Sebut saja, Jeff Bezos pemilik amazon.com, ikut kehilangan 2,1 miliar dolar AS. Sementara pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, masing-masing kehilangan kekayaan 1,5 miliar dolar AS. Semua dikaitkan dengan kebocoran Facebook.

Mengapa ini terjadi dan siapa yang paling patut disalahkan? Tentu saja Facebook ikut bertanggung jawab. Sekalipun sudah meminta maaf dan berjanji akan melakukan perbaikan, Facebook tetap harus membayar mahal.

Sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam, Facebook tidak sepenuhnya bersalah karena perusahaan yang menyalahgunakan datanya adalah sebuah lembaga analisis politik, Cambridge Analytica, yang mencuri data melalui sebuah aplikasi kuis. Satu per satu peserta kuis diambil datanya dan dijadikan target kampanye.

Hanya saja, jika ditelusuri lebih jauh siapa yang bisa disalahkan, masing-masing pemilik akun juga mempunyai andil karena membuka dirinya untuk menjadi korban.

Kita telah menelanjangi diri sendiri di media sosial. Status-status seperti: Sedang jalan-jalan keluar negeri sekeluarga. Mumpung pembantu lagi pulang kampung. Tanpa sadar merupakan pengumuman ke publik, termasuk ke para kriminal: Rumah sedang kosong sebab tidak ada yang menjaga, silakan jika ingin merampok.

Atau status: Sejak tadi sendirian di kafe karena yang ditunggu belum juga datang. Sama dengan memberi tahu ke khalayak yang di antara mereka mungkin saja menyimpan kesal atau dendam terhadap kita. Update status tadi bisa diartikan bagi mereka yang berniat jahat: Kalau mau balas dendam sekarang waktu yang tepat.

Karena itu, sikap bijak dan waspada diperlukan saat menggunakan media sosial. Tetap lindungi diri dan privasi. Jangan terlalu terbuka, terlebih mengekspos diri, sebab tidak akan sulit mencari satu dua sosok jahat dari jutaan orang yang bebas menerobos jendela diri via media sosial.

Justin Rosenstein, pencipta tombol like Facebook pada 2007 justru khawatir akan dampak psikologis penggunaan jejaring sosial. Pria berusia 34 tahun itu mundur dari Facebook pada 2009 dan mencoba meminimalisasi penggunaan aplikasi medsos. Sean Parker, presiden pertama jejaring sosial terbesar itu, mengaku tak mau lagi mengakses Facebook dan media sosial yang lain. “Terlalu membuang waktu,” katanya.

Pada era teknologi ini memang semua serbamudah. Tidak hanya bagi kita, tapi juga bagi mereka yang berniat jahat untuk melakukan aksinya. Baru-baru ini puluhan akun bank dicuri secara elektronik. Peristiwa yang seharusnya menyadarkan kita untuk selalu menyimpan data hard copy selain data digital untuk berjaga.

Saya sendiri sampai sekarang masih aktif menggunakan Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Tulisan ini tidak dimaksudkan agar berbagai pihak secara membabi buta menutup atau memboikot, karena media sosial bila digunakan dengan optimal juga tidak sedikit manfaatnya.

Namun, waspada, termasuk membangun kehati-hatian anak-anak kita yang mungkin sangat lugu dan cenderung terbuka, terbawa arus media sosial diperlukan. Sebab pada akhirnya, semua keburukan media sosial akan menghampiri apabila kita membuka lebar-lebar pintunya.

Asma Nadia

Hawking, antara Kebetulan, Keajaiban, dan Kepastian

Seperti biasa, Hawking meneguk teh di sela-sela kegiatan kampus. Akan tetapi sesuatu terjadi. Gelas di tangannya tiba-tiba jatuh, sementara kedua tungkai terasa kaku, sesaat kemudian ia pun kesulitan menggerakkan kaki.

Awal yang sepintas sepele, namun pemuda tersebut terkaget-kaget mendengar vonis dokter setelah melewati berbagai pemeriksaan.

“Hidup Anda mungkin hanya tersisa dua tahun lagi.”

Ia didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) yang menyerang sel-sel saraf motorik, sehingga penderitanya sulit bergerak dan menjadi lumpuh total.

Dunianya seolah terjerembab.  Hawking, kala itu berusia 21 tahun itu sedang mengikuti program doktoral di universitas ternama, dan dikenal memiliki karier akademis cemerlang. Hal lain, Hawking sedang mempersiapkan diri memasuki jenjang pernikahan.

Masa depan yang penuh harapan, musnah dalam sekejap. Buat apa bekerja keras untuk menjadi seorang doktor jika hidupmu hanya tersisa dua tahun? Bisiknya dalam hati.

Perlu waktu untuk mengumpulkan kepingan asa yang pecah bertebaran. Setelah melewati masa penuh perenungan, Stephen Hawking meyakinkan dirinya: Dia harus melihat bintang, bukan tanah.

“Jangan pernah menyerah,” tekadnya melawan harapan yang sempat hempas.

Sekalipun diperkirakan usianya akan berakhir dua tahun mendatang,  Hawking tetap menjalankan program doktoralnya sekaligus menikahi gadis yang dicintai dan ternyata tetap siap mendampingi. Pernikahan dilangsungkan, Hawking berdiri, menumpukan kekuatan pada sebuah tongkat di tangan.

Manusia boleh memvonis, bahkan dengan semua kemahiran dan ilmu pengetahuannya, tetapi  tetap Allah yang menentukan. Seperti sebuah keajaiban, Hawking menikmati usia lebih panjang.  Ia melewati fase dua tahun yang ditentukan.

Tujuh tahun setelahnya baru sosok penuh semangat itu mengalami kelumpuhan sepenuhnya: kehilangan kemampuan menggerakkan tangan, berjalan, bicara, dan semua motorik lain.

Kondisi yang lumpuh  total tidak membuatnya menyerah. Pemuda cerdas itu  tetap berkarya. Bahkan dalam kondisi yang mengenaskan secara fisik,  ia sanggup menghasilkan berbagai karya fenomenal dan menyabet berderet gelar serta penghargaan.

Hawking adalah wujud keajaiban. Fenomena luar biasa. Dengan bermodalkan otot pipi, satu-satunya motorik yang tersisa, ia mengetik, berbicara, menelepon, bercanda, dan produktif menghasilkan banyak karya. Belasan penghargaan tingkat dunia diterima. Lebih dari itu ia bertahan  melalui penyakitnya 50 tahun lebih dan baru wafat di usia 76 tahun.

Uniknya, hidup Hawking terhubung dengan banyak kebetulan persamaan dari para fisikawan dunia. Ia disejajarkan dengan Einstein. Ada kesamaan di antara keduanya, sama-sama tidak menonjol secara akademis ketika muda. Hawking meninggal di tanggal yang menjadi hari kelahiran Einstein.

Asma Nadia

Mengapa Mereka Memilih Menjadi Wirausaha Sosial Muda

Selama ini kita sudah menyadari bahwa jumlah wirausaha di kalangan pemuda Indonesia masih kurang. Sudah sering pula kita dengar bahwa kita butuh 2 % wirausaha di Indonesia. Kondisi itu pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi bangsa.

Saya ingin katakan bahwa saat ini kita lebih membutuhkan wirausaha sosial daripada sekadar wirausaha. Merekalah sejatinya pondasi penting dalam mewujudkan keadilan sosial di masyarakat. Karenanya,  saya melihat menjadi penting dan mendesak untuk berbagai sektor dapat mengenal, memahami, dan memerhatikan wirausaha sosial. Selanjutnya dengan bersama-sama membentuk arus yang mampu melahirkan jutaan wirausaha sosial baru di Indonesia.

Saya yakin, lahir dan tumbuh kembangnya wirasusaha sosial bisa menjadi strategi yang solutif untuk peningkatan produktivitas pemuda dan percepatan pertumbuhan bangsa. Hal ini dapat menyelesaikan isu ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Jika kita sudah bersepakat, bahwa wirausaha sosial adalah cara kita menciptakan lompatan besar, kita harus bersama – sama ajak anak – anak kita dan pemuda – pemuda kita untuk menjadi seorang wirausaha sosial muda. Apa yang bisa mendorong mereka menjadi wirausaha sosial?

Pada sebuah penelitian di Eropa, ketika ditanya “Apa alasan yang memotivasi mereka menjadi wirausahawan sosial muda?” jawabannya adalah 21% ingin melakukan sesuatu yang lebih baik, 18% menjadi bos untuk diri sendiri, 17% memenuhi kebutuhan, 17% ingin mengubah dunia, 12% mengambil peluang, 6% menghindari karir perusahaan, 3% tidak dapat melakukan hal lain yang lebih baik, 2% menjadi kaya, 4% alasan lainnya.

Jawaban yang diberikan tersebut cukup menarik, karena hampir satu dari lima wirausaha sosial di Eropa menyatakan peluang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dengan memperbaiki layanan dan produk yang sudah ada. Yang cukup menarik, hanya 2% dari responden yang memiliki motivasi ingin menjadi kaya. Ini memberikan sebuah pesan bahwa orientasi finansial tidak lagi menggiurkan bagi mereka, tidak menjadi alasan yang berarti signifikan bagi mereka untuk menjadi wirausaha sosial muda.

Penelitian di atas harus menjadi rujukan dan penyadaran kita dalam membangun kesadaran pemuda Indonesia untuk mau dan mampu basah kuyup berjuang menjadi wirausaha sosial muda Indonesia. Kita harus menularkan semangat dan mentalitas yang mendorong lahirnya wirausaha sosial yang berjiwa altruisme.

Dalam perspektif lain, penelitian tersebut menganalisis “Apa isu atau halangan utama yang Anda hadapi atau telah dihadapi sebagai wirausaha sosial muda?” Jawaban mereka antara lain adalah keterbatasan sumber finansial 23%, kerangka kerja regulasi dan legal 12%, keterbatasan pengalaman bisnis 9%, keterbatasan tim 8%, keterbatasan laynanan pengembangan dan pendukuk bisnis 7%, menyeimbangkan profit atau tujuan sosial 7%, kesulitan mengakses pasar 7%, kesulitan mengkomunikasikan nilai 6%, keterbatasan kepercayaan diri 5%, usia 5%, kesulitan meningkatkan 4%, keterbatsan pelatihan dan penelitian 3%, dan keterpatasan kemampuan kepemimpinan 2%. Praktisi yang diwawancara menunjukkan bahwa kekurangan pembiayaan atau sumber pembiayaan mewakili penyebab utama pemuda dan menjadi halangan utama untuk mengembangkan wirausaha sosial baru atau memastikan pertumbuhannya.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan pemerintah dalam mendukung perkembangan kewirausahaan sosial muda adalah menciptakan instrumen – instrumen pembiayaan yang memungkinkan untuk diakses para wirausahawan muda. Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan pendampingan pengembangan non-financing yang berkelanjutan, seperti manajemen organisasi, kepemimpinan, analisis keuangan, marketing dan branding, pengembangan bisnis, dan lain sebagainya.

Saya yakin, menuju tahun 2020 kita akan sampai sebuah momentum besar yang mungkin tidak terulang dalam 10 dekade ke depan. Momentum dimana pemuda melakukan gerakan kewirausahaan sosial secara massive, nyata, cepat yang berdampak besar.

Kita harus jujur dan menyadari bahwa saat ini memang benar bahwa bangsa kita sedang mengalami ketertinggalan. Namun adanya bonus demografi, pertumbuhan teknologi informasi, dan menguatnya kesadaran pemuda untuk mengambil tanggung jawab sosial sebagai wirausaha sosial akan mampu mendorong kita melakukan sesuatu yang Pak Harto sebut sebagai “percepatan yang akseleratif”. Suatu saat bangsa ini akan menyadari bahwa kita wirausaha sosial muda adalah generasi yang dinanti-nanti.

dr Gamal Albinsaid M.Biomed
CEO Indonesia Medika, peraih Tokoh Perubahan Republika