6 Kalimat yang Pantang Diucapkan Orangtua

Semua orangtua tentu pernah mengalami saat di mana anak berulah dan tak mau mematuhi aturan orangtua. Misalnya, anak ngamuk atau ngambek karena Anda menolak permintaannya dibelikan mainan. Ketika itu, rasanya sangat mudah terpancing untuk mengucapkan kata-kata kasar atau mencubitnya.

Namun, apakah tindakan itu akan efektif menghentikan perilaku anak? Sebaliknya, jika kita diamkan, tingkah anak malah makin menjadi. Lantas, bagaimana langkah tepat mengatasinya?

Dua psikiater bekerja sama membantu para orangtua menghadapi anak yang tantrum (mengamuk) dan mereka membuat daftar enam kalimat yang tidak boleh diucapkan ketika kesabaran mereka sedang diuji.

Seperti dari laman The Sun, kata-kata yang harus dihindari itu adalah:
1. Berapa kali ibu melarangmu melakukannya?
2. Saya sudah capek dengan kamu.
3. Kenapa kamu tidak mau mendengarkan.
4. Kalau kamu tidak mematikan itu sekarang, tidak ada makanan penutup malam ini.
5. Berhenti menangis, kamu seperti bayi.
6. Karena saya mengatakan seperti itu.

Menurut Heather Turgeon dan Julie Wright, semua respons tersebut, yang mungkin sudah sering dikatakan orangtua, hanya akan membuat segalanya menjadi lebih buruk. Dalam sebuah wawancara dengan The Independent, kedua psikiater tersebut menjelaskan bahwa kunci penanganan anak mengamuk terletak pada komunikasi.

“Dalam situasi yang sulit, penting bagi kita supaya menahan naluri kita untuk menegur, berbicara tegas, mengisolasi atau cara serupa, termasuk mematikan komunikasi,” ujar psikater yang menulis buku Now Say This.

Mereka merekomendasikan Anda tiga langkah pendekatan yang mudah untuk menghadapi perilaku buruk anak. Mereka menyebutknya ‘ALP Model’, yaitu attune (menyesuaikan diri), limit set (beri batasan), dan problem solve (penyelesaian masalah).

Berikut adalah contoh untuk menggunakannya di situasi ketika anak menangis atau ngambek tak mau meninggalkan toko mainan.

Pertama, Anda menyesuaikan diri

“Menunduk hingga setara dengan anak Anda, buat kontak mata dengan mereka. Dengan nada ramah, katakan pada mereka Anda mengerti kenapa mereka kesal, misalnya ‘ibu mengerti, meninggalkan toko yang asyik ini susah’,” jelas para ahli itu.

Kemudian Anda harus memberikan batasan

Mereka menyarankan Anda secara tenang menjelaskan situasinya pada anak. Katakan sesuatu seperti, “Kita harus pergi sekarang. Ini waktunya menjemputnya kakakmu.”

Lalu, saatnya penyelesaian masalah

“Cobalah untuk memediasi situasi dengan menambahkan sedikit kompromi yang akan memotivasi anak Anda untuk menjaga sikap, misalnya ‘kamu boleh menggandeng tangan ibu sambil bernyanyi lagu yang kamu suka, atau ibu akan menggendongmu sampai ke mobil’,” kata Heather dan Julie.

Alika Noor

6 Langkah Dorong Anak Gemar Membaca

Berapapun usia anak Anda, tidak pernah ada kata terlambat untuk mengembangkan cinta membaca buku kepadanya. Buat langkah-langkah kecil, namun signifikan ke arah yang benar sehingga membuatnya tertarik.

Di zaman modern dengan teknologi maju, mungkin sebagian besar orang tua juga kesulitan mengembangkan minat membaca buku. Dan untuk mengajari anak agar dapat cinta membaca, maka bisa dimulai dari orang tua yang kerap memegang buku.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua dilansir dari laman The Indian Express:

Perkenalkan Semenjak Kecil

Ada sejumlah besar buku yang tersedia yang dapat dinikmati bayi atau balita, buku kain, buku bertekstur, buku-buku papan atau buku-buku tahan air untuk dimainkan ketika mereka sedang mandi. Masing-masing buku ini memberikan pengalaman yang menstimulasi untuk anak dan memperkenalkannya ke dunia buku dengan cara yang menyenangkan dan menarik. Saat ia semakin tua, perkenalkan dia untuk menggambar buku atau cerita lucu.

Baca dengan Keras

Sisihkan 10 menit dari jadwal harian Anda untuk membaca. Cerita pengantar tidur biasanya berhasil membawanya ke tempat tidur tepat waktu, serta memperkenalkannya ke dunia imajinasi. Biarkan dia memilih cerita setiap malam. Jangan terkejut jika dia memilih cerita yang sama berulang kali, karena anak-anak suka pengulangan. Ubah suara Anda menjadi singa yang mengaum atau tikus melengking bernada tinggi.

Kelilingi Anak dengan Buku

Jangan beli buku dan simpan di rak tinggi yang tidak bisa dijangkau. Anak Anda harus dapat melihat dan menyentuh buku setiap kali dia memilih. Jaga buku-buku ini sejajar dengan mata. Jika Anda memiliki ruang, buat sudut baca untuknya.

Jadilah Teladan

Tidak masalah jika Anda membaca novel Dewi Lestari terbaru atau jika Anda membaca buku sejarah. Selama Anda memiliki buku di tangan, anak Anda akan merasa terdorong untuk mengambil buku sendiri. Temukan seorang penulis atau genre yang Anda sukai, dan luangkan waktu untuk membaca sendiri juga.

Tingkatkan Kosa Katanya

Mainkan permainan kata dengannya. Gunakan kata-kata deskriptif dalam bahasa sehari-hari Anda. Semakin banyak kosakata yang Anda gunakan saat berbicara dengannya, semakin besar kata-kata yang akan ia miliki ketika ia akhirnya mulai membaca. Kemudian, ketika menemukan sebuah kata, dia akan tahu apa artinya ketika telah mendengarnya sebelumnya.

Jangan Berhenti Membaca untuk Anak

Begitu seorang anak belajar membaca, orang tua cenderung berhenti membaca keras kepada mereka. Ubah buku yang Anda baca kepadanya. Pilih buku yang sesuai dengan usia, dan gunakan ritual cerita tidur Anda untuk membacakan sebuah bab untuknya. Imbaulah dia untuk membaca bab berikutnya, dan memberi tahu Anda apa yang terjadi.

Rossi Handayani

Orangtua Kini Makin Mudah Pantau Tontonan Anak dengan YouTube Kids

Para orang tua yang menggunakan aplikasi YouTube Kids di gadget untuk memberikan video yang layak tonton bagi anak kini memiliki lebih banyak opsi untuk memilih jenis tontonan.

Ini karena Google menanamkan serangkaian fitur content control baru dalam update teranyar YouTube Kids. Para orangtua kini bisa memilih secara manual video atau kanal mana saja yang bisa ditonton oleh anak.

Google turut menyediakan koleksi video dan kanal dari sumber-sumber yang sudah dipastikan ramah anak, seperti Sesame Workshop dan tim kurasi YouTube Kids, untuk semakin mempermudah orangtua dalam menyisir pilihan yang ada.

“Dari koleksi kanal milik partner terpercaya hingga memungkinkan orang tua memilih video dan kanal secara manual, kami memberikan kendali lebih kepada para orang tua,” ujar Product Director YouTube Kids James Beser.

Selain itu, apabila orang tua mematikan fungsi search di dalam aplikasi, YouTube Kids juga hanya akan menyajikan video-video yang sudah ditinjau dan diloloskan oleh tim kurasi YouTube Kids di kolom rekomendasi.

Khusus untuk wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Asia, Google turut memberikan fitur signed-in profiles sehingga para orang tua bisa membuat profil individual bagi masing-masing anak di perangkat yang sama.

YouTube Kids sendiri adalah aplikasi mobile yang berdiri sendiri, terpisah dari aplikasi YouTube reguler. Aplikasi yang dirancang agar ramah anak dalam artian hanya menyajikan konten-konten yang pantas untuk orang di bawah umur ini pertama kali diluncurkan pada 2015.

Semenjak hadir, YouTube Kids diklaim telah mengumpulkan lebih dari 70 miliar view video dan digunakan oleh 11 juta keluarga di seluruh dunia.

Oik Yusuf

8 Ciri-ciri Anak Sedang Mengalami Stres

Stres tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa. Anak-anak pun bisa mengalaminya, meskipun dengan ciri-ciri yang sedikit berbeda.

Penyebab stres pada anak bisa bermacam-macam mulai dari sesimpel masalah pekerjaan rumah hingga efek dari bullying ataupun perceraian orang tua.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ciri-ciri anak yang sedang mengalami stres, bagian pertama:

1. Mimpi Buruk

Sering mengalami mimpi buruk merupakan salah satu ciri paling umum yang muncul ketika anak sedang mengalami stres. Buntutnya, anak malas atau menolak ketika disuruh tidur karena tidak ingin mengalami mimpi buruk,

Jika begini, orang tua sebaiknya menemani anak sambil tertidur sembari membacakan dongeng agar tidurnya menyenangkan.

2. Sulit Kosentrasi

Sulit konsenstrasi merupakan ciri anak sedang memiliki masalah. Biasanya, sulit konsentrasi yang terjadi sekolah berhubungan dengan tuntutan dan prestasi anak di sekolah.

Bisa saja anak sulit konsentrasi karena orang tua selalu membandingkan anak dengan teman lainnya. Atasi masalah ini dengan beri pujian serta motivasi optimis.

4. Perilaku Agresif

Memukul, menendang, marah atau tantrum merupakan ciri perilaku agresif yang muncul karena anak stres. Biasanya perilaku agresif terjadi ketika anak tidak mendapatkan apa yang ia mau.

Jika anak mengalami masalah ini, segera cari sumber stresnya. Jangan sampai perilaku agresif anak membuatnya jadi bully yang malah merugikan diri sendiri.

5. Ngompol

Stres juga bisa menyebabkan anak sering merasa gelisah, yang menyebabkan anak cenderung ngompol saat tidur. Ketika ini terjadi, jangan memarahinya.

Ganti saja kasur atau seprei anak dengan yang baru dan tanyakan apa yang sedang ia pikirkan atau takutkan.

Muhamad Reza Sulaiman

Menilai Kualitas Pertemanan Anak

Hubungan persahabatan memainkan peran penting dalam psikologis dan perilaku anak-anak, terutama ketika mereka melalui masa transisi dari anak-anak ke remaja. Beberapa pertemanan bisa memberi dukungan positif dan mengurangi stres anak di rumah.

Penelitian terbaru diterbitkan dalam Jurnal Child Development mengukur tingkat kognisi seorang anak tentang kejadian-kejadian negatif dan ambigu di sekitar mereka, serta intensitas emosional anak. Profesor di Departemen Pengembangan Manusia dan Studi Keluarga di Iowa University, Nancy McElwain mengatakan dirinya tertarik untuk mengetahui kognisi dan emosi anak-anak yang berinteraksi dengan sesama mereka.

“Kami ingin tahu apakah mereka lebih kooperatif dan positif, atau justru konfliktual dan negatif,” kata McElwain, dilansir dari Science Daily.

McElwain dan rekannya, Xi Chen memeriksa data dari 913 anak di mana 50 persennya adalah laki-laki. Mereka diamati dalam serangkaian percobaan interaktif pada dua kelompok anak kelas empat dan enam.

Anak-anak yang cenderung menganggap niat temannya tulus, cenderung tidak emosional, lebih prososial, dan berbagai lebih banyak tawa serta interaksi positif ketika mereka masih kelas empat. Anak-anak cenderung menganggap niat temannya tidak tulus, terkadang mengobarkan permusuhan, bahkan muncul hasrat ingin menyerang teman ketika mereka kelas enam atau saat usia beranjak remaja.

Ada cara dapat dilakukan orang tua dan guru untuk membantu anak-anak yang beranjak remaja mengembangkan hubungan berkualitas. Emosi kuat pada anak jika dipadukan dengan kognisi positif akan mendorong interaksi posititif. Orang dewasa bisa membantu dengan mencontohkan pandangan positif tentang peristiwa negatif ke anak.

“Misalnya, teman anak Anda menumpahkan susu ke buku pelajaran anak Anda. Anda bisa mengatakan, “Ibu rasa dia tak bermaksud menumpahkan susu ke bukumu. Itu kecelakaan yang tak disengaja.” Alih-alih bertanya bagaimana kejadiannya, orang tua lebih baik memberi pandangan positif pada anaknya,” kata Paul.

Saat remaja, anak semakin mampu berdiskusi dan merefleksikan kognisi mereka sendiri.

Mutia Ramadhani

Membentuk Kepribadian Anak Sejak Dini

Menerapkan pendidikan keperibadian pada anak dimulai sejak dini. Hal ini dilakukan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, sehat, dan normal. Psikolog Yenny Duriana Wijaya bahkan mengatakan pendidikan kepribadian sudah bisa dibangun mulai dalam kandungan.

Sejak dalam kandungan sudah mulai dididik itu yang benar. Jadi, interaksi antara ibu dan anak itu sudah mulai membentuk pola pikir, pola kepribadian pada anak. Sudah ada banyak jurnal penelitian tentang keterkaitan emosi ibu dan emosi janin di dalam kandungan.

Untuk dapat membentuk kepribadian anak, sejak dalam kandungan anak mulai diberikan stimulus hal yang positif. Misalnya didengarkan musik. “Kalau secara teori umum itu pakai musik-musik. Benar loh itu. Karena memang dia akan menerima stimulus-stimulus yang positif,” ujar alumnus psikologi Universitas Gajah Mada ini.

Yenny menjelaskan bahwa banyak kejadian dari hasil penelitian yang menunjukan kata-kata positif dan kondisi emosi ibu saling berkaitan dengan anak yang dikandung, “Kondisi ibu pasti otomatis nyambung ke anak,” katanya.

Ia menambahkan, “Kalau ibu pada saat hamil bersedih nanti anaknya cenderung depresi. Kondisinya tidak stabil bisa jadi anaknya gampang marah.”

Ia berharap selama dalam kandungan, ibu yang mengandung bisa menjaga kestabilan emosinya. “Tolong dalam waktu sembilan bulan ini tuh bisa menjaga kestabilan emosi. Paling nggak minimal sembilan bulan lah, syukur-syukur bisa seterusnya. Karena pembentukan itu akan sangat mempengaruhi,” ujar perempuan kelahiran Blitar.

Setelah anak lahir, ia menjelaskan bahwa pendidikan pada anak masih harus terus dilakukan dimulai dari orang-orang terdekat. “Pertama kali pasti ibu, orang dia paling dekat sekali, kan jadi satu malah. Yang kedua pasti ayah orang terdekat lagi, kemudian orang-orang yang terdekat misalnya di satu rumah siapa.”

Dalam hal ini, pembentukan pendidikan kepribadian yang baik tak hanya menstimulus hal yang positif dan mengontrol emosi saja, tapi juga diperlukan pemahaman orangtua kepada anak.

Berdasarkan pengalaman Yenny, anak nakal disebabkan emosi tidak terkontrol dari ibu sehingga setelah lahir kontrol emosi masih diperlukan untuk bisa memahami dunia anak. “Kontrol emosi dulu, emang itu dunia anak, kita emang harus pahami dulu,” ujarnya.

Untuk dapat memahami dunia anak setelah lahir itu perlu dipelajari. Mempelajari hal seperti itu tidak hanya dari buku, tetapi bisa dilakukan lewat kelompok-kelompok parenting. “Memang harus belajar sih. Belajar itu nggak harus dari buku juga dari manapun bisa, apalagi kalau sekarang banyak grup-grup parenting.”

Terakhir orang tua juga perlu mengikuti perkembangan anak dengan menyamakan posisi orang tua dengan anak. “Posisikan kita sebagai yang lebih tua. Harus mengenali anak. Jangan dipaksakan sesuai dengan keinginan kita. Ikuti selalu perkembangan anak, apa kemampuan anak, dan deteksi terus apa sebenarnya kegiatan dia setiap hari,” ujar pengajar psikologi ini.

Yudha Manggala P Putra

Membesarkan Anak Lelaki yang Bertanggung Jawab

“MAINAN adek ke mana?” Lalu seisi rumah heboh mencari mainan itu. “Adek enggak mau makan!” Lalu ada saja yang berusaha menyuapinya.

“Adek numpahin minum, kepeleset!” Ubin yang kemudian dimarahi lalu semua orang berebut mengepel bekas tumpahan.

Situasi itu terasa akrab?

Bila iya, orangtua harus hati-hati. Terlebih lagi kalau “si adek” adalah anak laki-laki.

Rasa tanggung jawab anak dimulai sejak dini. Kita sepakat bahwa hukuman bukanlah solusi untuk permasalahan perilaku anak. Namun, konsekuensi natural atau logis wajib ada dan bahkan wajib ditanamkan.

Ada apa dengan anak laki-laki?

Mengapa “kehati-hatian” ditekankan kepada anak laki-laki? Ini soal rasa tanggung jawab.

Hasil Jajak pendapat Kompas untuk Grafikota, misalnya, mendapati penyebab perceraian nomor dua di DKI Jakarta ternyata adalah kepala rumah tangga tidak bertanggung jawab kepada keluarga. Hal ini selalu muncul dan disebut-sebut di hampir setiap kasus talak-cerai.

Angka perceraian di Ibu kota tergolong tinggi. Provinsi DKI Jakarta konsisten menduduki peringkat kelima dalam daftar angka perceraian nasional. Rata-rata per tahun sekitar 3 persen perceraian seluruh Indonesia berasal dari Jakarta.

Perilaku tidak bertanggung jawab jelas erat kaitannya dengan kebiasaan menerima konsekuensi natural, bukan? Entah itu konsekuensi dari perbuatannya atau konsekuensi dari pilihannya.

Konsekuensi adalah elemen penting dalam kehidupan setiap manusia yang menjadikannya mengenal rasa tanggung jawab dan memahami bahwa kita tidak bisa hidup dengan bergantung pada manusia lain, terus menerus.

Karena itu, hal yang terpenting dari membesarkan anak adalah membimbingnya menjadi manusia yang interdependen.

Apa itu interdependen?

Sebelumnya, mari kita tanyakan dulu kepada diri sendiri, sebetulnya karakter seperti apa yang paling kita inginkan dari anak?

Benarkah kita ingin memiliki anak yang sangat mandiri sehingga mampu melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain sama sekali?

Atau, kita justru tidak bisa mempercayai anak yang karenanya tidak mau melepas dia melakukan apa pun sendiri?

Sebab, ternyata ada tiga jenis yang membedakan kemandirian ini, yaitu independen, dependen, dan interdependen. Di buku The Attachment Parenting Book-nya dr Sears, ada poin yang menjelaskan perbedaan ketiga istilah ini.

Membesarkan seorang anak dengan koneksi yang kuat artinya memberikan tujuan agar ia tumbuh menjadi manusia yang interdependen.

Apa sih itu? singkatnya begini:

1. Orang yang dependen: “YOU do it for me” – Ia berharap ada orang yang terus melakukan segalanya untuk dia, ia bergantung terus pada keberadaan orang lain. Biasanya ini buah dari pengasuhan yang permisif dan memanjakan.

2. Orang yang independen: “I do it MYSELF” – Ia merasa bahwa dirinya dapat melakukan segala hal sendirian, enggak perlu orang lain dan cenderung memikirkan kepentingannya sendiri di atas segalanya. Individualis. Karakter ini cenderung menjadi buah dari pengasuhan disiplin keras.

3. Orang yang interdependen: “WE do it” – Ia cenderung menjadi orang yang bijak karena mampu mendengarkan orang lain, mampu berkolaborasi, dan get the most out of their relationships while asking the most of themselves as well. Ia bisa melakukan banyak hal sendiri dan atau bersama orang lain.

Iya, jadi, orang yang independen akan menjadi leader tetapi terikat kepada dirinya terlalu banyak. Dia bisa melewatkan banyak kesempatan untuk lebih berkembang karena tidak mau berurusan dengan orang lain.

Mereka yang dependen akan menjadi follower, karena terlalu sibuk mengikuti orang lain sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui apa yang dia sendiri mau.

Adapun orang yang interdependen mampu menjadi leader dan follower tergantung situasi dan kondisi yang dibutuhkan.

Mengapa interdependen?

Mengasuh dan mendidik anak untuk menjadi interdependen, justru menjadikan anak siap menghadapi kehidupan. Sebab, sebagai manusia, baik pekerjaan maupun pendidikan di masa depan, semuanya terkait dengan hubungan dengan manusia lain, bukan?

Ada satu referensi lagi yang juga membahas soal interdependen, yaitu Seven Habits of Highly Effective People-nya Stephen Covey.

Di situ juga disebutkan, interdependen adalah karakteristik orang-orang paling sukses. Karakter itu, tulis Covey, bisa ditanamkan sejak kecil.

“Aku bisa melakukannya sendirian, tapi hasilnya akan lebih baik dengan bantuan orang lain.”

Yasmina Hasni

Media Sosial Pangkas Kebersamaan Orangtua dan Anak

Teknologi terus mengalami kemajuan yang pesat. Tak sedikit yang akhirnya mengalami ‘kecanduan’ gawai dan sulit lepas dari aktivitas dunia maya.

Tanpa pembagian waktu yang bijak, interaksi sosial di dunia nyata pun terpangkas dan semakin minim. Termasuk di lingkungan keluarga.

“Memang media sosial, gadget jadi agak mengurangi momentum kebersamaan dengan anak, baik dari sisi anak maupun orangtua,” ujar psikolog anak, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Sc sat ditemui di Jakarta, Kamis (12/4/2018).

Anna menambahkan, hal itu bisa diakibatkan karena anak, orangtua atau keduanya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial. Selain media sosial, banyak pula aktivitas dunia maya lainnya, seperti mencari informasi dan berita.
Sementara dari sisi anak, waktu kebersamaan mereka dan orangtua bisa saja tersita karena terlalu lama mengakses YouTube, bermain game atau aktivitas lainnya.

Padahal, kata Anna, sejumlah penelitian dalam negeri menemukan bahwa anak usia 2-3 tahun yang terlalu banyak mengakses gawai atau lebih dari empat jam cenderung memiliki kemampuan bicara yang lambat perkembangannya dibandingkan mereka yang tidak.
Lalu, bagaimana menjaga agar penggunaan gawai dan akses internet tak berlebihan sehingga waktu bersama dalam keluarga tetap terjaga?

Anna menyebutkan, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), setidaknya gawai baru diperkenalkan saat anak menginjak usia 18 bulan.

Dalam usia tersebut pengenalan gawai pada anak juga masih terbatas pada hal yang sifatnya interaktif.

“Jadi tetap punya momen-momen kebersamaan. Bukan yang nonton dan main,” tuturnya.

Pada usia minimal 2 tahun baru lah anak dierbolehkan mengenal tontonan dan mainan di gawai atau internet. Itu pun tetap dalam pendampingan orangtua.

Selain itu, aktivitas dengan gawai tersebut juga diharapkan masih melibatkan aktivitas bersama antara anak dan orangtua.

“Misalnya paling sering dilakukan, menyetel musik lalu menari bareng. Atau cari informasi, seperti di YouTube cari DIY (Do It Yourself) lalu mempraktekkan,” ucap Anna.

Anna sendiri mengalami tantangan itu. Namun, ia tegas memberlakukan ‘gadget time’ di rumah. Sehingga pada waktu-waktu tertentu, baik anak maupun orangtua sama-sama tak memainkan gawainya.

Hal itu menurutnya perlu diberlakukan oleh para orangtua.

“Misalnya saat makan malam. Begitu mulai makan, semua gadget ditaruh di kamar masing-masing terus kami makan dan betul-betul enggak boleh melihat gadget. Lalu perlu ada beberapa waktu yang no-gadget time,” ucap dia.

Nabilla Tashandra

Biarkan Anak Bermain Bebas Sendiri

Dunia anak adalah dunia bermain. Walau kita sebagai orangtua perlu mengajak anak bermain, tapi sesekali biarkan mereka bebas bermain sendiri.

Para ahli menyarankan anak untuk free play, yakni bermain tanpa ditemani atau diatur oleh orangtua, serta bebas dari gadget. Ini akan membantu mengasah imajinasinya.

“Ini adalah jenis permainan yang membiarkan anak memakai imajinasi dan benda-benda di sekitar mereka, bisa mainan atau kardus bekas. Mereka bisa eksplorasi dan bersenang-senang sesuka mereka, tentu dengan batasan yang aman,” kata Liat Hughes Joshi, peneliti dan pakar perkembangan anak.

Ia mengatakan, anak balita saat ini punya kehidupan yang sibuk. Dimulai dengan mengikuti “kelas bayi” atau ikut klub berenang.

Ketika di rumah, waktu mereka juga dihabiskan untuk menonton televisi, diberi permainan “edukatif”, dan bermain dengan orangtua atau pengasuhnya.

Bukan berarti anak tidak perlu ditemani bermain, tetapi sesekali membiarkan mereka bermain bebas justru bermanfaat positif bagi tumbuh kembangnya.

“Bermain bebas merupakan permainan yang tidak terstruktur, dan ini sangat berharga. Anak-anak, seperti orang dewasa, juga perlu waktu untuk rileks dan merefleksikan apa yang mereka alami. Itu tidak bisa terjadi kalau mereka terlalu sibuk,” kata Joshi seperti dikutip dari MotherandBaby.co.uk.

Manfaat dari permainan yang tidak terstruktur antara lain membantu anak belajar mandiri. Termasuk anak bisa belajar mengatur dirinya saat ia merasa bosan, mencari sesuatu hal untuk membangun ketahanan diri.

Anak juga akan lebih percaya diri untuk mengikuti rasa ingin tahunya, sebuah kreativitas yang ia butuhkan untuk mulai permainan, termasuk imajinasi dan konsentrasi.

“Tidak semua anak secara alami penuh imajinasi. Sebagai awal bermainlah dengannya dan ajarkan bagaimana bermain kreatif. Misalnya, katakan ‘Kita bisa bikin apa ya dari balok-balok ini? ‘Apakah kita susun berdasarkan warnanya?’, selanjutnya biarkan mereka berpikir kreatif,” katanya.

Orangtua perlu membiarkan anak sesekali merasa bosan. Anak bosan yang tidak pernah belajar bermain mandiri akan terus menuntut perhatian orang di sekelilingnya. Sebaliknya, anak yang sudah belajar mandiri akan selalu punya kesibukan dan ini berarti rumah akan lebih berantakan.

“Sebagai orangtua kita harus menerima ini sementara. Saat mereka sudah lebih besar, lebih mudah mengajarkan mereka untuk membereskan barang daripada mengajarinya bermain mandiri,” katanya.

Lusia Kus Anna

Penulis Ungkap Cara Miliuner Membesarkan Anaknya

Selama hampir 30 tahun, penulis Steve Siebold menghabiskan waktu untuk mempelajari cara hidup, kunci sukses, dan pola pikir berbagai jutawan dan miliuner. Termasuk, bagaimana para jutawan dan miliuner meneruskan pola pikir, petuah-petuah, dan nasihat, serta kunci sukses bisnis kepada anak-anaknya. Ini semua semata agar anaknya bisa meneruskan usaha atau bisnis yang telah dirintis atau dilakukan orang tuanya dan menjadi jutawan ataupun miliuner.

Inilah yang dirangkum dalam buku Siebold, yang berjudul ”Secrets Self-Made Millionaires Teach Their Kids”. Dalam buku ini, Siebold mempelajari, mengamati, dan mewancarai sekitar 1.200 jutawan dan miliuner di seluruh dunia. Siebold mempelajari bagaimana seorang jutawan dan miliuner tidak hanya mewarisi kekayaan kepada anaknya, tapi juga pengetahuan, pola pikir, dan petuah serta nasihat untuk bisa sukses.

Dalam sebuah wawancara dengan Money dan CNBC, seperti dikutip dari News.com.au, Senin (19/3), Siebold menjelaskan beberapa petuah ataupun nasihat yang diberikan seorang jutawan dan milyuner kepada anak-anaknya. Pertama, anak-anak jutawan dan miliuner cenderung memainkan olahraga yang mahal, seperti golf ataupun tenis.

Ini semata-mata dilakukan bukan lantaran alasan kesehatan, tapi untuk menjaga relasi dan hubungan dengan sesama rekan bisnis. ”Rata-rata olahraga itu dimainkan oleh keluarga yang kaya. Mereka merasa menjaga hubungan dan relasi lewat olahraga tersebut adalah hal yang penting,” tutur Siebold.

Menjaga hubungan, kata Siebold, memang cukup penting bagi para keluarga kaya raya. Bahkan, meskipun itu hanya dalam bentuk menghadiri suatu acara amal, yang digelar oleh keluarga kaya lainnya. ”Baca buku-buku mereka, hadiri acara amal mereka, dan meakukan donasi. Apapun yang perlu Anda lakukan untuk bisa dikenali oleh mereka dan bisa membangun relasi yang baik,” ujar Siebold.

Tidak hanya itu, salah satu nasihat yang paling sering diucapkan seorang jutawan kepada anaknya adalah mengenai kerja keras. Siebold mengungkapkan, anak-anak para jutawan dan miliuner itu terkadang diharapkan untuk bisa bekerja dan menciptakan hal baru untuk bisnis mereka. ”Anda harus berani mengorbankan waktu luang untuk membangun suatu yang besar. Hal ini memang tidak glamor, terutama saat teman-teman sebaya mereka bermain dan mencari kesenangan,” kata mantan pemain tenis tersebut.

Para jutawan dan miliuner ternyata juga mengajari anak-anak mereka untuk tidak boros. Hal ini seperti diungkapkan Siebold dalam bukunya. Menurutnya, ada pemahaman yang berbeda yang menyebut para jutawan dan miliuner cenderung royal. Padahal, mereka juga melakukan perhitungan yang seksama terkait pengeluaran mereka.

Namun di sisi lain, anak-anak para jutawan dan miliuner ini juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya meraih pendapatan yang tinggi. Hal ini bisa dicapai dengan terus melakukan inovasi dan terobosan dalam bisnis. Menjadi kaya, kata Siebold, memang tidak membuat kalian bahagia, tapi hal itu bisa menyelesaikan 90 persen masalah yang mereka hadapi.

”Jika Anda terkena masalah, maka Anda bisa menghilangkan masalah tersebut dengan menulis cek. Jika Anda ingin menjadi kaya, maka pecahkan masalah. Jika Anda ingi benar-benar kaya, maka selesaikan masalah yang lebih besar. Jika Anda mampu melakukan hal ini, maka dunia akan senang hati memberikan uangnya kepada Anda,” ujar Siebold.

Kendati begitu, Siebold menuturkan, sebagian besar para jutawan dan miliuner tetap memberikan kebebasan anaknya untuk menentukan karier mereka. Tidak hanya itu, anak-anak tersebut tetap diberikan kesempatan untuk menikmati masa muda mereka. ”Kurangi stress, bersenang-senang, dan nikmati prosesnya. Pasalnya, akhirnya ini bukan sekedar berusaha untuk menjadi jutawan dan miliuner. Namun, perjalanan itulah yang penting. Jika hal itu tidak menyenangkan, maka Anda tidak akan benar-benar menikmatinya,” katanya.

Reja Irfa Widodo