Secular Radicalism: The Real Blasphemy

Gerakan untuk memisahkan antara politik dan agama menuai banyak kecaman. Ide sekulerisme patut dicurigai, hendak dibawa kemana bangsa ini sebenarnya.

Secara genetik, sekulerisme membawa sifat dasar blasphemic yakni menghujat, menista, menfitnah dan ketiadaan  rasa hormat terhadap Tuhan dan agama.

Jika sifat blasphemic ini disematkan kepada agama selain Islam, seperti Kristen misalnya, mungkin bisa dipahami karena selain agama ini memang agama ritualistik semata, juga secara historis lahirnya sekulerisme adalah akibat perseteruan kaum intelektual kristen dengan para pendeta diseputar gugatan doktrin Kristen yang anti sains.

Karena itu dalam negara yang mengadopsi ideologi sekulerisme seperti Indonesia, Islam sering dinistakan. Sudah sering terjadi kasus-kasus penistaan dan penghinaan terhadap Alquran, Nabi Muhammad dan Islam itu sendiri.

Istilah sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang oleh Naquib al-Attas diistilahkan dengan paham kedisinikian adalah ideologi Barat yang menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya.

Dalam paradigma  sekuler, kehidupan harus diatur berasaskan kepada rasional, ilmu dan sains. Paham pemisah antara agama dan dunia ini menganggap kewujudan sebenarnya adalah melalui pancaindera bukan unsur-unsur rohaniah dan metafisik yang sukar dikesan melalui kajian modern.

Prinsip lainnya adalah bahwa nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia bukannya teks agama. Bahkan menganggap alam ini terjadi melalui fenomena sains dan kimia tertentu bukannya refleksi kuasa Tuhan.

Sementara Islam adalah agama dan peradaban sekaligus. Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai.

Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai)

Dari pengertian Islam, maka muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah taala. Yakni mewakafkan wujudnya untuk Allah, mengikuti kehendak-kehendakNya, serta untuk meraih keridhaanNya. Kemudian dia berdiri teguh diatas perbuatan-perbuatan baik demi Allah semata. Dan dia menyerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah. Artinya, secara akidah dan secara amalan, dia telah menjadi milik Allah semata.

Dalam perspektif paradigmatik, ideologi sekulerisme yang lahir dari Barat ini jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai contoh pandangan Islam terhadap alam semesta sangat bertentangan dengan pandangan sekulerisme.

Menurut Islam, pandangan terhadap alam semesta bukan hanya berdasarkan akal semata sebagaimana pandangan sekulerisme. Alam semesta dalam Islam  difungsikan untuk menggerakkan emosi dan perasaan manusia terhadap keagungan al-Khaliq, kekerdilan manusia dihadapanNya, dan pentingnya ketundukkan kepadaNya. Artinya, alam semesta dipandang sebagai dalil qath’i yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah

Gelombang modernisme peradaban Barat dengan basis sekuler-liberal ke dunia Islam merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Perdaban Barat Modern tidak memperdulikan aspek kemanusiaan. Pendidikan modern Barat telah menghilangkan keyakinan kaum muda muslim terhadap agamanya. Padahal keyakinan adalah aset terpenting dalam kehidupan seseorang.

Melalui hegemoni sekulerisme, dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman pemurtadan yang menyelimuti bayang-bayang diatasnya dari ujung-ke ujung.

Inilah pemurtadan yang telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah. Filsafat materialisme Barat tak diragukan lagi adalah “agama” terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam.

Secara historis, sekulerisme di tangan Kemal Attaturk telah menjatuhkan keagungan Islam kekhilafahan Turki Ustmani dalam jurang kenistaan. Turki yang islamis berubah total menjadi Turki teracuni oleh peradaban Barat yang amoral.  Meski  perindu Islam masih ada di Turki, namun kelompok Kemalis masih terus menghantui masa depan Turki. Gerakan kudeta yang berhasil digagalkan pekan kemarin adalah bukti empiris akan tesis ini.

Islam adalah ilmu dan peradaban, agama dan pemerintahan yang oleh sekulerisme hendak dipisahkan. Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” *(HR. Ahmad)*.

Namun pada hakikatnya paham sekulerisme sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Al Qashash dalam kitabnya Usus Al-Nahdha Al -Rasyidah adalah pemisahan agama dari kehidupan manusia atau pemisahan Tuhan dari kehidupan manusia

Dengan karakteristiknya yang pragmatis duniawi, maka konsep sekulerisme tentang makna kebahagiaan juga bertolak belakang dengan pandangan Islam.

Sekulerisme memandang kebahagiaan adalah tercapainya kebutuhan materi semata tanpa mengindahkan cara untuk memperolehnya. Sumber kebahagiaan dalam sekulerisme dengan demikian adalah faktor yang berada di luar dirinya, yakni materi.

Sementara Islam memandang kebahagiaan adalah berasal dari dalam diri manusia. Faktor-faktor luar seperti kemakmuran, kekayaan, keluarga, kedudukan, pengetahuan, adalah faktor penunjang. Sifatnya hanya sebagai penyempurna, setelah faktor dominatifnya sudah ditemukan.  Seseorang tidak akan mungkin menemukan kebahagiaan yang dicari di luar dirinya. Kebahagiaan hanya akan ditemukan di dalam diri sendiri.

Alquran maupun sunah Rasul telah memberikan jawaban bahwa faktor dominatif yang menyebabkan orang bisa memperolah kebahagiaan adalah sakinatul qalb atau ketenangan hati. Yaitu hati yang dipenuhi dengan kuatnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bertindak sesuai dengan Alquran dan sunnah.

Dengan demikian, dalam pandangan Islam, kebahagiaan itu memiliki dua faktor. Pertama, faktor dominan yaitu berupa sakinatul qalb atau ketenangan hati karena adanya iman dan kedekatan kepada Allah. Sifatnya inner self, di dalam diri. Kedua faktor penunjang seperti kekayaan, jabatan, kesehatan dan sebagainya, yang sifatnya berada di luar diri manusia. Karena sifatnya menunjang, kekayaan, kesehatan, dan sebagainya itu melengkapi faktor dominan.

Dengan kata lain, faktor dominan itu mesti ada untuk timbulnya kebahagiaan. Jika tidak adanya faktor dominan menyebabkan kebahagiaan akan hilang. Akan tetapi, tidak adanya faktor penunjang belum tentu kebahagiaan seseorang hilang dari dirinya. Idealnya memang sesorang memilki faktor dominan dan penunjang sekaligus, sehingga kebahagiaan yang diperolehnya sempurna.

Kontaminasi racun sekulerisme di segala bidang sangat membahayakan aqidah kaum muslimin. Apalagi jika telah merasuki bidang pendidikan. Ciri sistem pendidikan yang sekuleristik adalah yang mengesampingkan etika dan moral anak didik. Sebab moral dianggap sebagai masalah pribadi dengan Tuhannya. Mereka memisahkan antara agama dengan kehidupan. Agama dicampakkan dalam ranah indivudi bukan publik.

Sistem pendidikan sekuleristik dengan demikian adalah sistem pendidikan yang tidak bertuhan. Apa jadinya jika produk pendidikan adalah manusia tanpa etika. Apa jadinya manusia tidak memiliki moral. Islam sangat mementingkan moral sebagai landasan kehidupan manusia.

Sebab jika manusia minus moral, maka tak ubahnya seperti binatang. Etika memiliki peran yang fundamental dalam sistem pendidikan Islam.

Di bidang politikpun, sekulerisme bisa menjadi racun mematikan. Paham sekulerisme dengan sistem demokrasinya telah merusak kemuliaan tujuan politik dengan lahirnya politik tak beretika.

Sekulerisasi politik telah mengakibatkan tumbangnya pilar-pilar fundamental dalam mengurus rakyat dan mengelola sumber daya alam. Politik yang telah terkontaminasi sekulerisme menjelma menjadi politik pragmatis transaksional.

Perilaku politikus yang hedonis, rakus kekuasaan, abai terhadap kepentingan  rakyat, tidak amanah, opportunis dan anti-syariah bahkan hingga korupsi, suap dan fitnah mewarnai polah politik sekuler. Sekulerisme ini juga membahayakan jika telah merasuki bidang ekonomi dan budaya.

Ekonomi kapitalisme yang hanya mengayakan segelintir manusia dan memiskinkan jutaan manusia lainnya tanpa mengindahkan nilai-nilai etika adalah karakteristik ekonomi sekuler.

Timbangan kapitalisme adalah materialisme, hanya mengejar keuntungan materi tanpa memperdulikan hukum halal dan haramnya. Istilah pertumbuhan dalam sistem ekonomi kapitalis adalah pertumbuhan semu, sebab hanya fokus kepada produksi dan abai terhadap distribusi.

Sementara prinsip ekonomi Islam adalah ekonomi berbasis nilai kebajikan untuk kesejahteraan dan keberkahan banyak orang, sehingga lebih fokus kepada distribusi.

Budaya sekuler adalah budaya hedonis dan liberal yang bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu. Budaya sekuler memberikan peluang kepada manusia untuk berekspresi sebebas-bebasnya tanpa batas-batas kepantasan dan nilai religius.

Pergaulan bebas, seks bebas, minuman keras, dan hiburan amoral  adalah sedikit contoh budaya sekuler. Sementara Islam menjadikan budaya sebagai penghalus rasa dan sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk membendung paham sekulerisme di segala bidang, harus menjadikan Alquran dan As Sunnah sebagai sumber pemikiran dan perilaku. Rasulullah bersabda, “ telah aku tinggalkan kepada mu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Alquran dan Sunnah” *(HR. Bukhari)*

Bahkan Allah mengancam dengan kerusakan kehidupan manusia jika mengadopsi sekulerisme dan membuang hukum Allah.  “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. *(QS Thaha : 124)*

Sifat blasphemik sekulerisme telah menjadi pangkal segala kerusakan peradaban manusia. Daya rusak blasphemik sekulerisme meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Saatnya menegakkan Islam dan tinggalkan sekulerisme, jika masih punya impian bagi kebaikan negeri ini.

Jika ada istilah Islam radikal, itu hanya tuduhan Barat untuk merusak citra Islam, sebab Islam adalah agama dan ideologi terbaik yang datang dari Allah. Tapi jika disebut Barat sebagai radikalisme sekuler yang menjadi biang kerok kerusakan kehidupan manusia, ini adalah kenyataan. Secular radicalism is the real blasphemy.

Karena itu gerakan revolusi Islam dengan dakwah syariah dan khilafah untuk menggantikan ideologi kapitalisme sekuler atau komunisme ateis selain rasional juga sebuah keharusan.

Ahmad Sastra
Dosen Filsafat UIKA Bogor

Membeli Orang Kritis

Di mana ya bisa membeli orang kritis? Tentu di bidang yang ia kritik. Bagaimana caranya membeli orang kritis? Bisa dengan berbagai cara.

Setidaknya ada dua cara yang paling persuasif. Yang pertama, dengan penawaran jabatan. Orang kritis jika diberi jabatan di bidang yang ia kritisi, jelas memberinya ruang segar untuk mengaktualisasikan kemampuan (potensi) yang ia miliki.

Yang kedua, bisa dengan penawaran komisi. Orang kritis biasanya banyak ide untuk perubahan. Ia pun akan rela berkorban besar demi mewujudkan kritisannya itu. Karenanya, bisa jadi juga ia memerlukan dana/komisi untuk membiayai segala kritisannya agar tak sekedar bertajuk angan-angan.

Tapi bagaimana pun, kedua cara di atas adalah strategi yang menyimpan potensi bahaya menuju terbelinya orang-orang kritis ini. Atas hal ini, pihak-pihak yang dikritisi justru telah menyimpan ‘kartu As’ orang-orang kritis. Orang-orang kritis ini dapat berkurang kekritisannya jika diberi jabatan atau dana. Maksudnya, seseorang yang diberi dana akan membela kepentingan pemberi dana. Dan secara fakta, hal ini sungguh terjadi dalam praktik politik praktis saat ini.

Sekedar contoh saja sebagai pembelajaran kita. Masih ingat Andi Malarangeng (AM)? Saat momentum reformasi 1998, ia menjadi ikon aktivis muda yang kritis terhadap penguasa. Popularitasnya tak terbendung, membius semua kalangan yang rindu perubahan pascatitik jenuh Orde Baru.

Namun apa yang terjadi beberapa tahun setelahnya? Yakni ketika ia menjadi anak emas penguasa. Kekritisannya sungguh berbalik 180 derajat, menjadi kesetiaan yang luar biasa kepada rezim. Yang seperti ini, sangat lekat dengan makna kedua jenis persuasi kepada orang kritis tadi, untuk membuktikan ia telah terbeli.

Contoh lain sosok yang telah terbeli, namun terkhusus untuk merangkul kalangan umat Islam, misalnya ketika ada seorang politisi suatu parpol yang mengatakan bahwa penguasa saat ini seperti Khalifah Umar bin Khaththab ra. Juga ketika ada mantan seorang kritis yang kini telah menjadi orang Istana, dengan lugas menyatakan bahwa penguasa saat ini adalah wakil Tuhan. Atau sosok-sosok lain, yang telah berubah jurus argumentasinya. Yang sebelumnya kritis, sekarang jadi membela yang bayar.

Proses ‘membeli’ dan ‘terbeli’ inilah yang kemudian menjadi deal-deal politik hingga membentuk sosok para politisi kutu loncat. Apatah kalimat yang layak bagi sosok-sosok serupa AM kecuali ia memang telah terbeli? Toh sistem kehidupan di negeri kita memang meniscayakan nominal biaya untuk sekedar mencari kader politik. Konsep ‘wani piro’ sudah umum dilakukan. Semua itu demi pendulangan suara kala berlaga di pesta demokrasi. Padahal kesetiaan pada uang dan jabatan, tiada yang abadi. Uang dan jabatan itu sendiri pun cepat atau lambat, akan habis dan sirna.

Nindira Aryudhani

Membaca Kunci Sukses Generasi Muda

Generasi muda merupakan aset yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Kualitas generasi muda sangat ditentukan dengan kompetensi dan hubungan sosial satu sama lain. Meningkatkan kompetensi salah satunya dengan bagaimana mendapatkan informasi yang utuh dan benar.

Membaca merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pepatah “Buku adalah jendela dunia” mungkin relevansinya tidak pernah pudar walaupun arus informasi dunia internet sudah mengubah gaya membaca kita dari buku cetak ke digital. Semua orang di zaman ini gampang mengakses bacaan lewat smartphone. Mau baca berita tinggal klik, mau baca buku tinggal download dan bisa lansung membaca lewat layar smartphone. Di dunia digital sekalipun pepatah di atas relevansinya masih sangat berpengaruh di zaman ini, bahwa dengan membaca kita dapat mengetahui informasi-informasi yang tiada batas dari mana saja, bahkan dari penjuru dunia sekalipun.

Coba kita lihat bagaimana Jepang membangun bangsanya dengan membaca. Negeri sakura ini bangkit dari keterpurukannya dimulai dengan membiasakan budaya membaca kepada seluruh masyarakatnya. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang ini adalah dengan memberantas buta huruf untuk membangun SDM nya. Lalu kemudian mendisiplinkan budaya membaca kepada masyarakatnya sejak dini.

Langkah awal yang dilakukannya adalah dengan mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri dengan misi membangun bangsanya sendiri. Ribuan buku-buku Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu anak-anak dan remaja kemudian didisiplinkan untuk membaca buku setiap hari.

Alhasil, misi inilah yang membuat jepang cepat bangkit dari keterpurkannya. Tak heran jika kita melancong ke Jepang banyak masyarakat di sana kita lihat sedang membaca buku di tempat-tempat umum. Inilah nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Jepang untuk membiasakan budaya membaca agar meningkatkan pengethauan dan kualitas SDM masyarakatnya.

Selain di Jepang, negara yang memiliki budaya baca tinggi adalah Finlandia. Menurut John W. Miller negara yang terletak di Eropa Utara ini terkenal dengan negara paling literat di bidang literasi di seluruh dunia. Langkah yang dilakukan oleh negara ini untuk meningkatkan minat baca di antaranya dengan penyediaan maternity pakage (paket perkembangan anak) yang diberikan oleh pemerintah kepada orang tua yang baru memiliki anak dengan memberikan beberapa perlengkapan bayi yang disisipkan dengan buku bacaan untuk orang tuanya maupun untuk bayinya, fasilitas perpustakaan yang sudah tersebar dimana-mana, budaya membaca yang turun temurun dilakukan dengan mewajibkan anak-anaknya wajib membaca satu buku perminggu, tradisi orang tua yang suka mendongeng, dan dari strategi dari pengalihan suara acara televisi dan film ke dalam bahasa lain yang kemudian diberi bantuan subtitles agar anak rajin membaca. Kebiasaan inilah yang membuat Finlandia sebagai negara tingkat pendidikan nomor satu di dunia dan kualitas SDM yang hebat.

Bagaimana Budaya Membaca di Indonesia?

Soal minat baca masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Beberapa data yang ada, Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan yang dilakukan di 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden dalam beberapa tahun belakangan ini, ditemukan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah yaitu hanya 25,1persen. Tidak jauh berbeda dengan riset yang dilakukan oleh UNESCO, indeks minat baca indonesia hanya 0,001persen artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Data dari survey BPS juga mencatat tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 persen, sementara minat menonton mencapai 91,67 persen. Hasil penelitian ini dapat menjadikan acuan bagi bangsa Indonesia untuk terus membenahi diri meningkatkan minat baca generasi Indonesia.

Lemahnya minat baca di Indonesia didukung oleh banyak faktor, mulai dari akses terhadap bahan bacaan yang sangat minim karena akses bahan bacaan baru tersebar di kota besar saja belum sampai ke pelosok Tanah Air. Disamping itu kondisi dan fasilitas perpustakaan serta buku bacaan bagi masyarakat Indonesia terutama di daerah-daerah. Jika ada pun program-program yang ditawarkan masih berjalan setengah-setengah, perpustakaan masih menjadi tempat yang sepi, terkesan angker dan hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berpendidikan tinggi, padahal anak-anak dan warga biasa juga perlu akses terhadap bahan bacaan.

Gerakan Membaca “Itu Bermanfaat” dan Dilakukan oleh Semua Stakeholder

Dalam Agama Islam, ayat “Iqra” (bacalah) dalam surat al-Alaq menjadi ayat/wahyu yang pertama yang turun. Membaca merupakan sesuatu aktivitas baik dan bermanfaat. Tentunya dengan Membaca sesuatu yang bermanfaat dan diridhoi Allah SWT akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.

Budaya membaca akan muncul dari kebiasaan, kalau tidak dibiasakan, kapan akan menjadi biasa? Kegitan membaca ini harus dilakukan secara masal dan terus menerus agar timbul kebiasaa tersebut dan akan melekat menjadi kebutuhan. Beberapa lembaga juga telah membentuk suatu gerakan untuk membiasakan masyarakat Indonesia untuk membaca, diantaranya adalah Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Indonesia Membaca, Program Pengembangan Budi Pekerti, Program Duta Baca Indonesia, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Taman Baca Masyarakat, Perpustakaan Desa hingga Perpustakaan Keliling yang bergerak di desa-desa terpencil. Namun gerakan-gerakan ini sepenuhnya belum didukung pemerintah secara maksimal, karena masih banyak kelemahan di mana-mana, mulai dari koleksi buku yang kurang hingga SDM yang tidak memadai.

Kalau saya boleh bilang saat ini justru sinergi dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba justru yang lebih massif dan maksimal, seperti Gerakan 1001 Buku yang fokus pada pendistribusian buku anak dan penguatan taman baca anak berkomitmen untuk meningkatkan akses sumber bacaan khususnya bagi anak-anak agar mencintai dunia literasi sejak dini. Mereka ini adalah pejuang tanpa pamrih yang berjiwa besar untuk meningkatkan kualitas SDM bangsa dengan tangannya sendiri tanpa bantuan pemerintah.

Kita dapat melihat contoh yang dilakukan oleh POS Indonesia, ia juga sudah meluncurkan satu layanan baru untuk bersinergi dalam membangun budaya membaca di Indonesia yaitu dengan memberikan layanan pengiriman buku gratis yang akan didonasikan di setiap tanggal 17. Hal-hal semacam itu menjadi langkah awal untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia untuk membangun karakter bangsa ini dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Nah, diharapkan BUMN-BUMN lain juga bisa meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh POS Indonesia untuk berperan mencerdaskan bangsa sesuai dengan model kerjanya masing-masing.

Selain meningkatkan akses terhadap sumber bacaan, gerakan pembiasaan baca buku pun perlu ditingkatkan lagi, tidak hanya bagi lembaga tertentu untuk meningkatkan budaya membaca dan pemberantasan buta huruf adalah tanggung jawab kita semua. Contohnya salah satu founder startup pendidikan di Indonesia, Iman Usman yang berperan aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Dengan memanfaatkan salah satu media sosial yang ia miliki, pemuda ini membuat gerakan membaca dengan menuliskan tagar #sabtubelajar untuk mengajak seluruh masyarakat agar memanfaatkan waktu senggangnya dengan membaca. Hal kecil seperti ini yang dapat meningkatkan budaya baca di Indonesia dan dapat menjadikan tren bagi masyarakat khususnya bagi pemuda untuk membaca sehingga dapat meningkatkan kualitas SDMnya.

Peran Generasi Muda

Pada tahun 2020-2035 Indonesia akan mulai memasuki masa emasnya dengan bonus demografi, pada tahun tersebut pertumbuhan usia produktif akan lebih besar dibandingkan dengan usia tidak produktifnya. Ini merupakan bonus yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun bangsanya, namun jika tidak diiringi dengan budaya membaca, Kondisi bangsa Indonesia mengalamai tantangan untuk mencapai masa emasnya ini.

Generasi muda sebagai tonggak kemajuan bangsa harus membiasakan diri untuk membaca agar mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Pada mulanya mungkin mereka merasa dipaksa untuk membaca tapi di masa depan mereka menjadi tahu ternyata budaya membaca menjadi rumus sukses mereka untuk mengatarkan mereka menjadi orang maju dan negara yang maju.

Oleh karena itu, budaya membaca sangatlah penting dalam membangun suatu bangsa. Tips memulai membaca dari yang termudah untuk dilakukan oleh generasi-generasi muda dalam meningkatkan minat baca adalah dengan memulai membaca dari topik yang kita sukai, terlebih saat ini akses terhadap internet pun sangat mudah sehingga kita bias membaca kapan saja dan darimana saja tak terhalang tempat dan waktu. Kita harus sadar bahwa dengan membiasakan membaca akan membentuk karakter dan meningkatkan kualitas diri menjadi orang yang hebat.

Bulan Ramdhan adalah Moment yang Tepat

Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk membudayakan membaca. Bulan Tarbiyah ini memiliki keistimewaan yang luar biasa. Bagaimana generasi muda mengisi waktu dari mulai sahur sampai menjelang buka puasa dengan membaca Alquran. Kita masih mengingat pada saat sekolah, berapa target kita membaca Alquran dalam sehari dan sebulan? Banyak orang yang mentargetkan Khatam Alquran pada bulan Ramadhan. Ada yang melakukannya dengan sendiri dan ada juga yang melakukannya bersama-sama dengan Tadarus Alquran setelah shalat Tarawih. Dari kebiasaan ini akan menjadi perilaku dan budaya membaca yang baik.

Dr Misbah Fikrianto MM MSi
Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Direktorat Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Membaca ‘Il Principe’ karya Machiavelli di Tahun Politik

Bagi yang suka politik bisa jadi politik itu main-main, bahkan diidentikan dengan ‘seni mencapai tujuan’. Namun orang seperti Winston Churchil pernah mendampat habis para politisi. Menurutnya politisi orang yang bisa ‘berlidah sejuta’. Dia bisa berjanji tentang apa saja serta berkilah apa saja. Churchil mencontohkan bahkan bila seorang politis berjanji dalam tiga bulan bisa mewujudkan dibangunnya sebuah jembatan, tapi ketika masa tiga bulan sudah dilewati dan jembatan tidak terbangun, maka politisi pasti punya ‘alasan’ mengapa jembatan itu tidak terbangun. Layaknya lagu klasik Ismail Marzuki ’Tinggi Gunung Seribu Janji’ semua gampang diucapkan oleh lidah yang memang tak bertulang.

Nah, di tengah suasana tahun politik dan menjelang pelaksanaan pilkada menjadi ‘nikmat’ untuk membaca kembali buku klasik karya Niccolò Machiavelli: Il Principe. Edisi buku ini dalam bentuk PDF tersebar di dunia maya, meski terkesan jarang dibaca orang. Membaca buku serius bagi banyak orang tetap dianggap tak menarik, lebih yahud main Facebook atau media sosial lainnya,

Dalam pengantar buku itu yang diulas oleh M Sastrapratedja & M Parera, dinyatakan buku il Principe (Sang Penguasa) yang ditulis oleh Machiavelli  itu bertolak dari profil dan pola manajemen kekuasaan semasa Cesare Borgia, di Florence, Italia. Cesare Borgia, putra sulung Alexander VI hasil perkawinan dengan Vannoza de Cataneis. Buku yang dialihbahasakan oleh C Woekirsari dan diterbutkan oleh PT Gramedia tahun 1997 itu terdiri 26 chapter.Buku Il Prince di tulis pada selama tujuh tahun, yakni 1512-1519. Dalam kata pengantarnya, buku ini termasuk salah satu buku yang disebut- sebut punya kontribusi dalam proses perubahan dunia seperti kita saksikan sekarang terutama dalam membangun kultur politik pada masa modern ini.

Bahkan kisah ini sejatinya juga sudah pernah dilakukan di jaman kerajaan Mataram Jawa. Dalam catatan kaki kata pengantar dengan mengutip disertasi Dr Soemarsaid Moertono, ‘Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau, Studi tentang Masa Mataram II, Abad XVI Sampai XIX,  diterbitkan Yayasan Obor Indonesia tahun 1985.

Begini tulis Soemarsaid:

“Pada tahun  1512  ketika Machiavelli mulai memaparkan pandangan pandangannya tentang kekuasaan penguasa negara yang sudah dicopot perlengkapan magis-religius karena sudah masuk dalam proses sekularisasi kekuasaan, jejak-jejak terakhir Majapahit menghilang dari peredaran sejarah.

Kesultanan Malaka yang menjadi pusat penyebaran  agama Islam ke Indonesia baru saja direbut oleh Portugis tahun 1511). Dalam Abad XVII Amangkurat I, pengganti Sultan Agung (1613-1645), merasa terancam karena perlengkapan magis religius kekuasaannya digerogoti oleh prinsip egalitarianisme Islam, yang diperkenalkan oleh guru-guru Islam. Raja itu memerintah untuk membunuh ratusan guru Islam (membakar pesantren di sepanjang tepian Bengawasan Solo hingga Gresik,red) beserta keluarganya demi mempertahankan perlengkapan magis-religius kekuasaannya”.

Lalu apa yang menarik hingga buku Il Principe ’nikmat’ dibaca. Ya, salah satunya adalah terdapat dalam bab ke  XVIII, ‘Bagaimana Raja Harus Setia Memegang Janji’. Raja dimaksudkan kala itu dengan masa sekarang sebagai pelaku atau pekerja politik (politisi).

Atau sesosok orang yang  disebut Presiden Prancis masa kini, Emmanuel Macron, politisi adalah mereka yang mengambil politik sebagai pekerjaan bukan sebagai panggilan nurani untuk kebaikan sesama dan negara. Akibatnya, wajar bila politisi sering dianggap pejoratif’ sebagai sosok orang yang melakukan segala cara. Padahal sejatinya sejak zaman Aristoteles politik adalah hal mulia.

Tapi baiklah berikut ini kutipan tulisan dalam bab ke XVIII buku ‘Il Principe itu’:

Setiap  orang menyadari betapa terpuji kesetiaan dan sifat terbuka seorang pemimpin daripada sifat berbelit-belit dalam  segala tindakannya. Namun pengalaman sekarang ini menunjukkan bahwa  para raja yang telah berhasil melakukan hal-hal yang besar adalah mereka yang menganggap gampang atas janji- janji mereka, mereka yang tahu bagaimana memperdayakan orang dengan kelihaiannya dan yang akhirnya menang terhadap mereka yang memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran.

Anda hendaknya tahu, bahwa ada dua cara berjuang: melalui hukum atau melalui kekerasan. Cara pertama merupakan cara yang wajar bagi manusia dan yang kedua adalah cara bagi binatang. Tetapi karena cara pertama kerap kali terbukti tidak memadai, orang lalu menggunakan cara kedua. Dengan demikian seorang raja harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara binatang dan manusia.

Para penulis kuno mengajarkan kepada para raja mengenai alegori ini, yaitu waktu menguraikan bagaimana Achilles dan banyak raja lainnya dari zaman kuno dikirim untuk dididik oleh Chiron, manusia berkepala binatang, supaya mereka dilatih dengan cara ini.

Arti alegori ini ialah,dengan menjadikan guru itu setengah manusia dan setengah binatang, seorang raja harus mengetahui bagaimana bertindak menurut sifat dari baik manusia maupun binatang dan ia tidak akan hidup tanpa keduanya. Dengan demikian, karena seorang raja terpaksa mengetahui cara bertindak seperti binatang, ia harus meniru rubah dan singa;  karena singa tidak dapat membela diri sendiri terhadap perangkap dan rubah (serigala,red) tidak dapat membela diri terhadap serigala.

Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan  seperti singa untuk menakuti serigala. Mereka yang hanya ingin bersikap seperti singa adalah orang  bodoh. Sehingga, seorang penguasa yang bijaksana tidak harus memegang janji kalau dengan demikian ia akan merugikan diri sendiri dan  kalau alasan yang mengikat sudah tidak ada lagi.

Seandainya semua orang baik hati, anjuran ini pasti tidak baik. Tetapi karena manusia adalah makhluk yang jahanam yang tidak menepati janji, Anda tidak perlu menepati janji pula pada manusia lain. Dan seorang raja tidak akan pernah kehabisan alasan untuk menutupi ketidaksetiaannya, dengan menunjukkan  betapa banyak perjanjian dan persetujuan yang dilakukan oleh para raja ternyata kosong dan tidak bernilai karena raja tidak  memegang janji: mereka yang paling tahu meniru rubah adalah yang terbaik.

Tetapi orang harus mengetahui bagaimana menutupi tindakan-tindakannya dan menjadi pembohong dan penipu yang ulung. Manusia bersifat sederhana dan begitu banyak manusia di sekitarnya, sehingga penipu akan selalu menemukan seseorang yang siap untuk ditipunya.

Selanjutnya Machiavelli menulis:  Ada satu contoh yang masih hangat yang tidak akan saya lewatkan. Alexander VI selalu dan hanya memikirkan bagaimana menipu orang lain. Ia selalu menemukan korban penipuannya. Tidak pernah ada orang yang mampu mengatakan dengan sangat meyakinkan atau begitu mudah bersumpah atas kebenaran sesuatu dan yang tidak menghormati janji.

Namun tipuan-tipuannya selalu menghasilkan apa yang diinginkannya. Karena ia ulung dalam menguasai ilmu menipu.Karena itu, seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik yang saya sebutkan di atas, tetapi ia tentu saja harus bersikap seakan-akan memilikinya.

Saya bahkan berani mengatakan bahwa jika ia memiliki sifat-sifat ini dan selalu bertingkah laku sesuai dengannya ia akan mengalami bahwa sifat-sifat tersebut sangat merugikannya. Jika ia nampaknya saja memilikinya, sifat-sifat tersebut akan berguna baginya. Ia sebaiknya nampak penuh pengertian, setia akan janji, bersih dan alim. Dan memang ia seharusnya demikian.

Tetapi situasinya harus demikian. sehingga jika ia juga memerlukan sifat kebalikannya, ia mengetahui bagaimana menggunakannya. Anda harus menyadari hal ini: seorang raja dan khususnya seorang raja baru, tidak dapat menaati semua hal yang menyebabkan orang dipandang hidup baik, karena untuk mempertahankan negaranya ia kerap kali terpaksa bertindak berlawanan dengan kepercayaan orang, belas kasih, kebaikan dan agama. Dan karena itu disposisinya harus luwes, berubah seirama dengan bimbingan keberuntungan dan keadaan.

Sebagaimana saya utarakan di atas, ia tidak boleh menyimpang dari yang baik, jika itu mungkin, tetapi ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat, jika perlu.Oleh sebab itu, seorang raja haruslah sangat hati-hati untuk tidak mengatakan sepatah kata pun yang tidak nampak terilhami oleh lima sifat yang saya sebutkan di atas. Bagi mereka yang menghadap dan mendengarkan dia, dia harus tampak bersikap penuh pengertian, seorang yang dapat dipercaya kata-katanya, seorang yang matang dewasa, seorang yang baik budi dan alim. Dan tidak ada hal yang lebih penting untuk bersikap seakan-akan memiliki kedua sifat terakhir tersebut.

Orang pada umumnya menilai sesuatu lebih berdasarkan apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka rasakan. Karena orang dapat melihat, tidak banyak yang mampu berhubungan dekat dengan Anda. Setiap orang melihat Anda tampil, sedikit saja yang mengetahui siapa Anda sebetulnya. Dan mereka yang sedikit jumlahnya itu tidak berani melawan orang banyak yang didukung oleh kebesaran negara. Tindakan manusia pada umumnya dan khususnya tindakan para raja, kalau tidak ada urusan pengadilan, dinilai menurut akibatnya. Karena itu biarlah raja melakukan tugas untuk menaklukaan dan memerintah negara; cara-caranya akan selalu dinilai luhur dan akan dipuji dimana pun juga.

Rakyat biasa selalu terkesan oleh penampilan dan hasil. Dalam hubungan ini, hanya ada rakyat biasa dan tidak ada tempat bagi mereka yang berjumlah sedikit karena yang banyak mendapat dukungan negara. Seorang penguasa tertentu zaman kita sekarang ini, yang lebih-baik tidak disebut namanya, tidak pernah berkotbah kecuali tentang perdamaian dan kesetiaan. Dan dia adalah musuh dari kedua hal tersebut dan seandainya ia pernah menghormati salah satu dari kedua hal tersebut, pasti ia akan berkali-kali kehilangan negara dan kedudukannya.

Jadi itulah yang ada di buka Buku Il Principe karya Machiavelli!

Muhammad Subarkah

Mendadak Caleg!

Secara resmi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pada 17 Februari 2018 telah menetapkan 16 partai politik menjadi peserta pemilu 2019. Tak lama berselang, setelah melalui proses pengadilan di Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu) Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi kontestan terakhir yang ditetapkan dengan nomer urut 19.

Kejutan belum selesai sampai di situ, berdasar pembacaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta, Rabu (11/4), memerintahkan KPU menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) menjadi parpol peserta Pemilu 2019. Sontak saja, partai tersebut langsung mengklaim telah mempersiapkan pendaftaran bakal calon anggota legislatif (caleg).

Sejak saat itu, secara formal genderang perang ditabuh, kalkulasi politik dihitung, dan strategi pemenangan yang telah dirumuskan siap digelontorkan ke konsituten. Partai lama dan partai baru, saling berebut suara lebih dari 200 juta jiwa. Konsensus informal terbentuk: inilah tahun politik.

Atas dasar itu, kini mulai bermunculan gambar, poster dan iklan diberbagai sudut kota para calon anggota legislatif (caleg), bahkan partai yang sangat digdaya di social media pun mencuri start pasang baliho dan spanduk di dunia nyata. Setidaknya, ini menjadi pertanda bahwa tidak ada yang terlampau dominan di semua medan perang, baik offline maupun online.

Catatan khas lainnya yang perlu diperhatikan dari pemilu 2019, pemilihan anggota parlemen dan presiden berlangsung serentak dalam waktu yang bersamaan. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, untuk pemilihan presiden formulasi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diprediksi sekitar dua dan maksimal tiga pasangan calon. Sedangkan di saat yang bersamaan warga juga akan memilih puluhan ribu calon anggota legislatif, untuk kemudian menjadi legislator di pusat maupun daerah. Anggota DPR dan DPRD Provinsi/kab/kota pada akhirnya akan menjadi wajah resmi partai politik dalam etalase demokrasi selama lima tahun ke depan.

Sebagaimana kita paham, para caleg partai politik tidak bebas nilai. Setidaknya dengan itikad mereka menjadi caleg menunjukan bahwa mereka punya ‘ambisi’ politik. Yang membedakan hanya kadar dan derajatnya saja. Pun demikian ternyata latar belakang para caleg beragam; pengusaha, purnawirawan, anak muda dan bahkan tukang ojek.

Setidaknya secara sederhana, membuktikan bahwa demokrasi telah memberikan ruang yang setara bagi setiap warga negara untuk dipilih. Latar belakang boleh beda, tapi motif yang ditempuh relatif sama; meraih kekuasaan dan menikmati jabatan. Jika kita hendak sinis mengambil kesimpulan akhir.

Hingga saat ini harus diakui, alih-alih menyaksikan diskursus ideologis sesuai dengan platform partai, justru kita mencermati banyak anggota dewan baik di level pusat maupun daerah seperti mati suri dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan memberikan kontrol terhadap kinerja pemerintah. Senyap dalam riuh agregasi politik, namun riuh dalam menuntut fasilitas.

Menurut Miriam Budiardjo (2003), ada empat fungsi partai politik, yaitu komunikasi politik, sosialisasi politik, rekruitmen politik dan pengelolaan konflik. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan penekanan kepada fungsi rekruitmen politik yang nampak kedodoran dari proses pencalegan, terlihat dari apa yang dilakukan oleh partai politik di ‘tahun politik’ ini.

Dalam proses pencalonan anggota legislatif dan mencari pejuang ideologis partai yang hendak ditempatkan di Parlemen justru dilakukan di persimpangan jalan–di tengah jalan-bukan sesuatu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Penyelenggara pun mengingatkan ini, Komisioner KPU RI Hasyim Asy’ari mengingatkan agar parpol bisa selektif mengusung calon dalam pemilihan legislatif yang berlangsung 2019 mendatang.

Mengukur Daya Tahan Ideologis di Tahun Politik

Ukuran proses kaderisasi yang sehat dari partai politik sejatinya bisa dilihat pada pesta demokrasi yang akan digelar, setidaknya kita bisa lihat dari kesungguhan partai sepanjang lima tahun terakhir mendidik dan melakukan kaderisasi untuk mengisi kolom kosong di nomor urut caleg. Nampaknya, situasi tersebut tidak bisa ideal di semua partai, dengan dalih mencari putra purti terbaik bangsa untuk berjuang bersama partai mereka melakukan outsourcing politik secara instan. Kader ditemukan ditengah jalan, bukan di awal perjuangan.

Faktanya proses rekruitmen caleg dilakukan tidak hanya berdasarkan pertimbangan aspek teknis administrative dan subtansial parpol. Namun juga kebutuhan partai–dana–serta kehendak electoral–pemilih. Semisal untuk mememenuhi keterwakilan perempuan 30 persen perempuan sebagian partai asal memasukan yang penting ada dan terdaftar, bukan semata-mata karena alasan kesetaraan gender dan keberpihakan kaum marginal. Masih jauh filosofis itu.

Epik lain dari peristiwa mendadak caleg, partai politik membuka pendaftaran caleg setahun terakhir seperti dikejar setoran. Akibatnya, tentu membuka peluang cela dan seleksi yang tidak kredibel. Partai politik secara terbuka membuka pendaftaran caleg lewat media massa, luar ruang, bahkan dalam ruang senyap sekalipun.

Prasyarat pun dilengkapi oleh setiap caleg, selain aspek administratif juga syarat prinsip kompetisi prosedural: popularitas, elektabilitas dan ‘isi tas’. Sekali lagi mahfum adanya, bermunculanlah nama-nama mengisi kolom kosong dari berbagai latar belakang profesi; artis, pengusaha dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, sebagian dari mereka semua awam politik. Berbekal ‘euphoria’ membela rakyat, mereka masuk hutan belantara politik.

Selama ini, ada tiga ‘rumus penting’ dalam proses pencalegan, yaitu modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi. Seakan ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tapi, faktanya bahwa ‘rumus’ itu tidak selamanya benar, masih ada saja caleg yang kemudian jadi anggota dewan dengan cara-cara yang ‘normal’. Meski jumlahnya tidak banyak. Sebagai catatan dalam periode keanggotaan DPR 2014-2019 telah terpilih 560 (lima ratus enam puluh) wakil rakyat yang duduk di DPR RI, berasal dari 77 Daerah Pemilihan (Dapil). Anggota Dewan yang terpilih bertugas mewakili rakyat selama 5 (lima) tahun, kecuali bagi mereka yang tidak bisa menyelesaikan masa jabatannya.

Ternyata, mereka terpilih menjadi ‘juara’ dari dapilnya dengan beragam sebab, tidak semata-mata karena popularitas dan isi tas yang selama ini menjadi asumsi umum dan hukum linier pemilihan umum. Tapi, karena kecerdasan dalam membangun personal branding, menciptakan difrensiasi dan menentukan positioning yang tepat.

Buktinya cukup banyak anggota DPR RI yang malang melintang muncul di media, ternyata tidak terpilih di pemilu. Pun anggota yang terkenal sangat kaya juga tidak terpilih. Di titik ini, kita masih bisa sedikit menghela napas, bahwa seseorang terpilih tidak semata-mata karena modal finansial dan popularitas, namun juga karena modal sosial dan politik yang telah dihimpun sekian lama. Dikemas dalam pendekatan komunikasi dan marketing politik yang ciamik. Di sisi lain kita juga diuntungkan dengan mulai adanya geliat pemilih cerdas yang tidak pernah sepi dari hiruk pikuk pemilu.

Selebritas Sosial Media dalam Kontentasi Politik Faktual

Di pemilu kali ini uniknya para selebritas media social nampak turun gunung dan ikut serta, tersebutlah nama Guntur Romli, Tsamara Amany dan Kokok Dirgantoro dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Juga Reiza Patters dari Partai Demokrat dan Adly Fairuz dengan follower mencapai 1,2 juta merapat ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski kita sempat ‘kecele’ dengan manuver Pandji Pragiwaksono dalam promosi tour dunia standup comedy, mengira akan ikut serta dalam kompetisi pemilu 2019.

Para seleb medsos, mereka terjun ke gelanggang politik berbekal kepercayaan diri bahwa popularitas virtual dapat menjadi salah satu modal dan amunisi yang berharga untuk mengarungi pertarungan pemilu. Masih harus diuji!. Jika selama ini mereka berselimut dalam balutan akun media social, mengeluarkan pendapatnnya dengan sangat baik dalam teks, kata, dan visual secara mandiri.

Tentu saja, akhirnya, perlu dibuktikan dalam kawah candradimuka bertemu pemilih real di lapangan dengan beragam kompleksitasnya. Proses transformasi untuk mempolitisasi serta mengkapitalisasi follower (pengikut) menjadi voter (pemilih) dalam waktu tidak lebih dari satu tahun, menjadi tantangan tersendiri dan hanya waktu yang bisa menjawab.

Cross Market: Caleg Virtual dan Factual

Konfigurasi caleg yang kuat di medsos tentu akan diuji di ruang nyata, pun sebaliknya. Bagi caleg yang selama ini jarang berkecimpung di medsos, mereka seakan terpaksa harus ‘nyemplung’ tanpa pelampung yang memadai kedalamnya. Para caleg non medsos perlu masuk ke dunia baru dengan satu asumsi bahwa ada pemilih pemula di medium tersebut, segmentasi yang jumlahnya relatif besar di pemilu 2019. Terjadi semacam cross marketing yakni mengacu pada praktik yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan, tetapi biasanya hanya dua, bersama-sama mengiklankan atau mengizinkan fasilitas untuk menjual produk dan layanan yang berbeda.

Seseorang yang terkenal dan memiliki follower yang banyak di dunia maya, dengan kontestasi caleg harus terjun ke dunia nyata. Menyapa masyarakat dan menggalang dukungan. Pun demikian dengan caleg yang ‘gaptek’ mendadak mengaktivasi sosial media asset yang selama ini terbengkalai. Atas kebutuhan dan waktu yang mendesak, tersedaklah popularitas diruang publik. Muak dan bising di Publik. Atas proses itu akhirnya kita akan menyaksikan tejadi kompetisi dalam perspektif sehat, maupun ‘kanibalisasi’ dalam perspektif negative. Pasar politik akan penuh sesak, karenanya perlu kecerdasan tersendiri dari pemilih untuk mencermati situasi ini.
Strategi yang Menentukan atau Taktik yang Mematikan

Bagi para caleg yang percaya pada proses, meraih elektabilitas harus dibangun dengan tekun dan pendekatan yang sangat kreatif. Namun bagi caleg yang percaya proses, maka meraih elektabilitas adalah dengan jalan pintas dan cara tuntas; transaksional semata. Bayar dan menang!. Sekilas cara ini nampak ampuh dan ajaib, namun dalam jangka panjang jika situasi tersebut terus dipelihara maka akan membahayakan demokrasi yang kita tempuh selama ini. Nampak mahal dan miskin narasi. Asal beda, asal menang, asal-asalan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Maka, perlu ada terobosan yang kreatif untuk menghentikan praktek instan dan transaksional model seperti itu, selain perlunya penguatan sistem yang secara ampuh membatasi pergerakan money politik. Di sisi lain diperlukan pemilih yang semakin mandiri dan bertanggung jawab untuk menentukan caleg yang akan dipilih.  Membaca track record mereka, menguji gagasannya dan mamastikan bahwa apa yang diucapkan saat kampanye berbanding lurus saat menjadi anggota legisaltif kelak.

Heryadi Silvianto
Peneliti di Institute for Social, Law, and Humanities Studies (ISLAH)

Zaman yang Mencemaskan

Adakah hidup yang lebih mencemaskan dari zaman ini? Inilah zaman di mana peradaban berjalan sempoyongan, ke kiri dan ke kanan tanpa jelas tujuan. Perhatikanlah, kalau ke kanan mengapa tak pernah benar-benar sampai pada telaga kebenaran? Jika ke kiri juga tak pernah sampai pada kesimpulan persoalan. Jika lurus, mengapa juga tak pernah benar-benar fokus?

Jadi begitulah, zaman berjalan bagai segerombolan pemabok yang melangkah sambil meracau tentang apa saja yang melintas di hadapan. Kadang meracau tentang politik, budaya, sosial, ekonomi, sampai soal agama. Gerombolan itu bersahut-sahutan saling mencaci dan membenci, saling membuli dan meludahi.

Mulut dan tangan mereka jadi ringan untuk bicara dan memukul. Mereka yang bicara dan bertindak tak sesuai dengan keinginan kelompok lainnya, segera menjadi bulan-bulanan melalui komentar hingga tindak kekerasan. Kepala dan hati mereka menjadi batu yang sulit menerima perbedaan dan susah memaafkan. Jika pun keduanya harus berurusan karena ada motif ekonomi atau kekuasaan di dalamnya, kepura-puraan adalah jurus andalan dan setelahnya mereka bisa kembali saling tikam.

Ya ya..zaman yang memcemaskan adalah ketika kita takut untuk berekspresi, sebab ancaman hukuman bagai moncong buaya yang siap memangsa kalau ada sekelompok orang yang tak berkenan dengan ekspresi kita. Zaman yang mencemaskan adalah ketika kita susah membedakan antara yang serius dan santai, guyonan atau beneran. Semua hal bisa “dimainkan” sesuai selera bahkan sesuai pesanan.

O ya…soal pesanan ini, tak cuma moda transportasi berbasis aplikasi yang bisa melakukannya. Sekarang bisnis pesanan juga sudah melibatkan orang per orang. Jika moda angkutan itu mengirimkan barang, maka yang terakhir itu mengirimkan pesan-pesan kebencian. Konon bisnis ini cukup menggiurkan sehingga mengundang kalangan intelektual yang seharusnya menjaga akal sehat, akhirnya tergoda untuk turut bermain di dalamnya dengan sebutan buzzer.

Buzzer juga disebut sebagai micro influencer, atau KOL (Key Opinion Leader). Mereka mampu mempengaruhi pikiran teman-teman dan pengikut-pengikutnya. Pada umumnya, buzzer ini memiliki 2-3 ribu orang pengikut dan bahkan bisa mencapai jutaan pengikut.

Keberadaan buzzer terasa benar ikut mewarnai kondisi bangsa ini, terutama sejak Pilpres 2014 hingga sekarang. Garis demarkasi antar dua kelompok pendukung calon presiden membentang begitu lebar dan dalam, sehingga terciptalah dengan apa yang disebut dengan sebutan pembenci “haters” dan pemuja “lovers”.

Dua golongan ini menjadi sedemikian “beriman” terhadap pimpinan mereka atau panutan mereka beserta turunannya. Joko Widodo di satu sisi, dan Prabowo pada sisi lainnya. Joko Widodo sebagai representasi pihak penguasa, dan Prabowo sebagai pihak oposisi. Dua panutan itu boleh saja telah bertemu beberapa kali untuk berangkulan dan saling memahami melalui pernyataan, tapi pemuja dan pembenci mereka tetap saja memelihara perasaan cinta dan benci itu secara telaten dan sungguh-sungguh.

Maka tak heran kiranya, jika tak ada sesiapa pun yang bisa menghentikan kecintaan atau kebencian mereka. Tak juga cerdik cendekia, ulama, bahkan tokoh sekaliber apapun. Kebencian dan kecintaan mereka adalah batu granit yang sulit dipecahkan.

Tentu saja, bukan cuma buzzer yang membuat suasana negeri menjadi bara dalam sekam. Nyaris di semua sektor kehidupan kita menjumpai gunjingan dan provokasi yang menjurus pada perpecahan. Pesan-pesan perdamaian yang dulu dibawa oleh kaum agamawan, tertinggal di kitab-kitab suci dan alpa disampaikan. Rumah-rumah ibadah yang dulu penuh dengan ajaran cinta dan kasih, belakangan dipenuhi ajaran kebencian kepada mereka yang tak sejalan. Dan media sosial, adalah ladang subur bagi berseminya permusuhan.

Pada titik ini, teringatlah saya pada cerita kawan-kawan saya di Aceh beberapa waktu lalu, saat saya roadshow menyanyikan puisi di beberapa kota di Aceh. Negeri Serambi Aceh itu pada dekade 90an hingga awal 2000, selalu diwarnai oleh intrik, fitnah, dan kebencian. Kecurigaan menghinggapi siapa saja, sehingga jika kita menumpang bus dari Takengon ke Medan, di sepanjang perjalanan suasana di dalam bus sedemikian tegang. “Tak ada yang bercakap atau bertegur sapa,” kenang penyair Fikar yang asli Aceh kepada saya. Barulah ketika bus sudah sampai perbatasan Sumatera Utara, seluruh penumpang bus baru bisa bernapas lega dan bertegur sapa.

Sampai pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, pukul 00:58:53, lempeng Hindia disubduksi oleh lempeng Burma dan menghasilkan serangkaian tsunami mematikan di pesisir sebagian besar daratan yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Gelombang tsunami yang puncak tertingginya mencapai 30 meter (98 ft) ini menewaskan lebih dari 230.000 orang di 14 negara dan menenggelamkan banyak permukiman tepi pantai. Salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Indonesia, khususnya wilayah Aceh, adalah negeri yang terkena dampak paling besar.

Bencana itu menghentikan peristiwa yang sedang berlangsung, termasuk permusuhan dan baku bunuh sesama saudara di Aceh. Aceh tiba-tiba hening, mereka yang masih hidup bertafakur, mereka yang pernah bermusuhan segera menyadarai kekeliruan, mereka berhadap-hadapan dalam kesedihan dan kepedihan yang sangat.

Demikianlah, Tuhan melalui alam semesta punya cara sendiri untuk mengembalikan tata kehidupan sesuai kehendakNya, ketika manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini sudah berbuat berlebihan.

Semoga saja, zaman yang mencemaskan ini segera berlalu dan tidak pernah sampai pada titik kulminasi. Masing-masing pihak segera menyadari, betapa sesungguhnya kita adalah saudara sebangsa dan setanah-air. Sebab demikianlah yang diajarkan semua agama. Engkau adalah aku dan aku adalah engkau, begitulah kawan dari Bali mengajarkan kepada saya.

Dari “Sharing Economy” ke “Cooperative Economy”

BILA kita pinjam istilah Prof Rhenald Kasali, hari ini kita bergerak dari model owning economy ke arah sharing economy.

Model pertama mengisyaratkan pemilikan usaha secara perorangan, karenanya semua hal harus diselenggarakan secara mandiri. Berbagai investasi ditanggung sendiri dan bila untung juga dinikmati sendiri.

Model kedua, sharing economy, bekerja dengan mengolaborasikan aset-aset yang menganggur (idle asset) dari banyak orang.

Dengan pola dasar seperti itu, model kedua juga sering disebut collaborative economy. Hari ini model kedua berkembang di banyak sektor, mulai dari ritel, transportasi, jasa rental dan lainnya.

Model kedua, kata Prof Rhenald, lebih efisien daripada yang pertama. Dengan model bisnis nonkonvensional ditambah teknologi berbasis platform, model kedua membuat banyak pihak yang terhubung bisa menikmati kue ekonomi lebih bagus.

Prof Rhenald menyebut model itu seperti ekonomi gotong royong yang dikembangkan Moh Hatta, misalnya pada tulisan beliau berjudul “Ini Beda antara Sharing dengan Sharing Economy”. Benarkah begitu?

Platform sebagai Meja

Mari kita bayangkan sharing economy platform sebagai sebuah meja. Sebagai contoh, sebutlah Uber, Grab, dan Go-Jek yang sediakan hamparan bagi para pihak yang beraktivitas di atasnya: pengemudi, pengguna dan pelaku usaha kecil menengah (UKM).

Meja platform berperan sebagai daya dukung dari aktivitas bisnis yang mempertemukan supply dan demand. Sederhananya kita sebut sebagai market place.

Atas fasilitasi itu, pemilik meja peroleh pendapatan dengan pola fee based income. Artinya, makin banyak pihak yang berada dan beraktivitas di atas meja, makin besar fee yang diperoleh pemilik meja. Pola yang seperti itu kemudian dibaca oleh Dr Revrisond Baswir sebagai brokerage economy.

Dalam berbagai tulisan, sayangnya Prof Rhenald hanya mencukupkan analisisnya pada apa-apa yang berada di atas meja: model bisnis, pihak-pihak yang terhubung, teknologi yang dipakai, pola big data analytic dan seterusnya.

Sebaliknya, tidak pernah menyoal siapa pemilik meja dan apa-apa yang berada di bawah meja. Sebutlah bahwa meja nyatanya hanya dimiliki oleh satu orang atau kelompok orang tertentu.

Adapun apa yang berada di bawahnya adalah para venture capitalist yang menggerojok modal sampai triliunan rupiah.

Bila demikian, menyamakan sharing economy berbasis platform dengan ekonomi gotong royongnya Moh Hatta tentu tak bisa diterima.

Model ekonomi gotong royong Hatta kaprahnya kita sebut sebagai koperasi atau co-op. Ciri utamanya terletak pada sisi demokratisnya, di mana meja dibuat oleh dari dan untuk kepentingan semua orang.

Francesca Bria, penasihat European Commission on Future Internet and Smart Cities Policy, berbeda pandangan dari Prof Rhenald. Ia secara tajam menyoal siapa pemilik meja, dari mana modal untuk membuat meja serta kemana nilai lebihnya.

Dalam portal Platform.coop, perempuan itu menulis, “We must articulate an alternative to platform capitalism. It is a matter of democracy.”

Berbeda dari Prof. Rhenald, Bria menukik tajam bagaimana platform yang ada saat ini kapitalistik dan karenanya tak demokratis.

Alternatif yang Bria dan kawan-kawannya tawarkan adalah dengan membuat meja yang dapat dimiliki semua orang. Sebuah platform cooperativism sebagai alternatif terhadap platform capitalism.

Saat ini ada sedikitnya 217 co-op platform di seluruh dunia. Sebagai alternatif dari Uber, misalnya mereka buat LibreTaxi, alternatif dari AirBnB mereka bangun FairBnB, dalam crowdfunding mereka inisiasi Seedbloom dan banyak ragam lainnya yang semuanya berbasis co-op.

Cooperative Economy

Sharing economy telah mengajarkan masyarakat bagaimana berbagi sumber daya hasilkan ekonomi yang lebih efisien. Dengan teknologi yang ada saat ini, pola sharing menjadi lebih mudah.

Namun, model sharing economy yang ada hari ini belum sepenuhnya demokratis. Platform hanya dimiliki orang tertentu, karenanya pihak-pihak yang terhubung tak selamanya berjalan simetris, yang saya ulas di kolom sebelumnya, “Kotak Pandora Sharing Economy”.

Model sharing economy perlu didorong maju sampai sepenuhnya sumberdaya itu terbagi (shared). Sebagai contoh, bayangkan bila Gojek bertransformasi menjadi Multistakeholder Worker Co-op atau Koperasi Pekerja Multi Pihak.

Sekedar ilustrasi dengan pola yang ada saat ini, kepemilikan Gojek bisa dibagi kepada pengemudi dan pengguna. Dengan kecanggihan platform, jutaan pengguna Gojek dapat dengan mudah turut menjadi pemilik platform itu. Tinggal pencet ini dan itu, jadilah pemilik!

Artinya, Nadiem Makarim tak perlu lagi repot-repot cari modal ke para venture capitalist. Masyarakat, dalam arti pengemudi dan pengguna yang banyak itu, bisa patungan memodalinya. Karena pertemukan langsung supply dan demand dalam satu atap sebagai worker-owner dan user-owner, harga layanan dapat mereka tetapkan secara berkeadilan. Ujungnya, fair price bagi semua pihak.

Dengan model itu, strategi predatory price di mana harga layanan sangat murah hasil subsidi modal venture capital bisa dihilangkan. Persaingan usaha tetap berjalan dengan sehat tanpa drama David vs Goliath.

Masing-masing pemilik, worker-owner dan user-owner dapat berembug soal harga yang paling adil atas layanan. Berbagai biaya produksi layanan dihitung bersama tanpa harus korbankan pengemudi dan menangkan konsumen. Mulai dari asuransi, perawatan kendaraan, biaya komunikasi dan lain sebagainya. Sampai ujungnya, fee yang diperoleh atas platform dikembalikan kepada semua pemilik.

Agar sampai pada evolusi puncaknya, dimulai dari owning economy ke sharing economy dan berujung pada cooperative economy, kita perlu tanamkan azas demokrasi di dalamnya.

Bila kita suka demokrasi dalam ruang politik, eloknya kita juga menerima modus demokrasi bekerja di ruang ekonomi. Dimana sumberdaya dimiliki dan dikendalikan oleh, dari dan untuk semua pihak. Sebelumnya saya ulas pendek dalam kolom “Menyempurnakan Sharing Economy”.

Redistributif dan Berkelanjutan

Joseph Stiglitz dalam International Cooperative Summit di Quebec tahun 2016 lalu menyatakan cooperative economy dapat berperan efektif sebagai instrumen trickle-down effect.

Stiglitz melihat korporasi swasta tak dapat diharapkan lakukan redistribusi kue ekonomi. Hasilnya ketimpangan terjadi di seluruh belahan bumi seperti temuan Thomas Piketty tahun 2013 silam.

Platform yang bersendi para venture capitalist tentu saja tak mampu lakukan redistribusi juga. Sebaliknya makin melebarkan jurang ketimpangan.Selain redistributif, cooperative economy juga berkelanjutan (sustain).

Claudia Sanchez Bajo dalam Capital and The Debt Trap (2011) menemukan bahwa perusahaan koperasi (co-op) cenderung bertahan lebih lama dibanding swasta. Setelah tiga tahun beroperasi daya tahan koperasi rata-rata mencapai 75 persen, sedangkan swasta hanya 48 persen.

Tentu saja daya tahan itu makin jomplang bila kita bandingkan dengan start up business, termasuk yang berbasis platform, yang tingkat kegagalannya sampai 90 persen.

Masa depan akan dipenuhi ketidakpastian dan turbulensi. Analis McKinsey Global Institute (2016) memberi peringatan, 50 tahun terakhir ini kita menikmati masa pertumbuhan yang mengagumkan. Namun 50 tahun mendatang, “The era of easy growth is over”.

Dalam ramalan masa depan yang seperti itu, cooperative economy lebih menjanjikan karena terbukti berdaya tahan. Yang demikian itu, old but gold, Prof!

Inilah Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat “Disruption”

Mungkin Anda sempat menerima video tentang Google Pixel Buds. Wireless headphone seharga 159 dollar AS yang akan beredar bulan depan ini, dipercaya berpotensi menghapuskan pekerjaan para penerjemah.

Headphone ini mempunyai akses pada Google Assistant yang bisa memberikan terjemahan real time hingga 40 bahasa atas ucapan orang asing yang berada di depan Anda.

Teknologi seperti ini mengingatkan saya pada laporan PBB yang dikeluarkan oleh salah satu komisi yang dibentuk PBB – On Financing Global Opportunity – The Learning Generation (Oktober 2016).

Dikatakan, dengan pencepatan teknologi seperti saat ini, hingga tahun 2030, sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan. Tak mengherankan bila mulai banyak anak-anak yang bertanya polos pada orang tua, “mama, bila aku besar, nanti aku bekerja di mana?”

Otot Diganti Robot

Perlahan-lahan teknologi menggantikan tenaga manusia. Tak apa kalau itu membuat kita menjadi lebih manusiawi. Semisal kuli angkut pelabuhan yang kini diganti crane dan forklift.

Tak hanya di pelabuhan, di supermarket pun anak-anak muda beralih dari tukang panggul menjadi penjaga di control room. Itu sebabnya negara perlu melatih ulang SDMnya secara besar-besaran dan menyediakan pekerjaan alternatif seperti pertanian atau jasa-jasa lain yang masih sangat dibutuhkan.

Tetapi teknologi tak hanya mengganti otot. Manusia juga menggunakan teknologi untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya.

Di sini kita sudah melihat robot dipakai untuk memasuki rumah yang dikuasai teroris dan memadamkan api.

Sekarang kita mendengar tenaga-tenaga kerja yang bertugas di pintu tol akan diganti dengan mesin. Pekerjaan di pintu-pintu tol semakin hari memang semakin berbahaya, baik bagi kesehatan (asap karbon kendaraan), keamanan maupun kenyamanan (tak dilengkapi toilet).

Sehingga, memindahkan mereka ke control room atau pekerjaan lain tentu lebih manusiawi.

Tetapi, teknologi juga menggantikan jarak sehingga pusat-pusat belanja yang ramai dan macet tiba-tiba sepi karena konsumen memilih belanja dari genggaman tangannya dan barangnya datang sendiri.

Maka sejak itu kita menyaksikan pekerjaan-pekerjaan yang eksis 20 tahun lalu pun perlahan-lahan akan pudar. Setelah petugas pengantar pos, diramalkan penerjemah dan pustakawan akan menyusul.

Bahkan diramalkan profesi dosen pun akan hilang karena kampus akan berubah menjadi semacam EO yang mengorganisir kuliah dari ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Kasir di supermarket, sopir taksi, loper koran, agen-agen asuransi, dan sejumlah besar akuntan juga diramalkan akan berkurang.

Kita tentu perlu memikir ulang pekerjaan-pekerjaan yang kita tekuni hari ini.

Pekerjaan-pekerjaan Baru

Sebulan yang lalu, di Cambridge – UK, saya menerima kunjungan dari mentee-mentee saya yang sedang melanjutkan study S2. Salah satunya, Icha yang sedang duduk di program S2 bidang perfilman.

Saya pun menggali apa saja yang ia pelajari dan  rencana-rencana ke depan yang bisa dijembatani yayasan yang saya pimpin.

Icha bercerita tentang ilmu yang didapatnya.

“Kami disiapkan untuk hidup mandiri,” ujarnya.

“Masa depan industri perfilman bukan lagi seperti yang kita kenal. Semua orang kini bisa membuat film tanpa produser dan middleman seperti yang kita kenal. Kami diajarkan menjadi produser indies, tanpa aktor terkenal dengan kamera sederhana, dan pasarkan sendiri via Netflix.

Ucapan Icha sejalan dengan Adam, putera saya yang sedang mengambil studi fotografi di School of Visual Arts, New York. Ia tentu tidak sedang mempersiapkan diri menjadi juru potret seperti yang kita kenal selama ini, melainkan mempersiapkan keahlian baru di era digital yang serba kamera.

Adam bercerita tentang arahan dosennya yang mirip dengan Icha di UK. “Sepuluh tahun pertama, jangan berpikir mendapatkan gaji seperti para pegawai. Hidup mandiri, membangun keahlian dan persiapkan diri untuk 20 tahun ke depan. Tak mau susah, tak ada masa depan,” ucapnya menirukan advis para dosen yang rata-rata karyanya banyak bisa kita lihat di berbagai galeri internasional.

Adam dilatih hidup mandiri, berjuang sedari dini dari satu galeri ke galeri besar lainnya. Dari satu karya ke karya besar lainnya.

Memang, pekerjaan-pekerjaan lama akan banyak memudar walau tidak hilang sama sekali. Seperti yang saya ceritakan dalam buku baru saya, Disruption, pada pergantian abad 19 ke abad 20, saat mobil menggantikan kereta-kereta kuda. Ribuan peternak dan pekerja yang menunggu pesanan di bengkel-bengkel kereta kuda pun menganggur. Namun pekerjaan-pekerjaan baru seperti montir, pegawai konstruksi jalanan, pengatur lalu lintas, petugas asuransi, dan sebagainya pun tumbuh.

Kereta-kereta kuda tentu masih bisa kita lihat hingga hari ini, mulai dari jalan Malioboro di Yogyakarta sampai di kota New York, Paris, atau London melayani turis. Tetap ada, namun tak sebanyak pada eranya.

Namun pada saat ini kitapun menyaksikan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang tak pernah kita kenal 10-20 tahun lalu: Barista, blogger, web developer, apps creator/developer, smart chief listener, smart ketle manager, big data analyst, cyber troops, cyber psichologyst, cyber patrol, forensic cyber crime specialist, smart animator, game developer, smart control room operator, medical sonographer, prosthodontist, crowd funding specialist, social entrepreneur, fashionista and ambassador, BIM Developer, Cloud computing services, cloud service specialist, Dog Whisperer, Drone operator dan sebagainya.

Kita membaca postingan dari para bankir yang mulai beredar, sehubungan dengan tawaran-tawaran untuk pensiun dini bagi sebagian besar karyawannya mulai dari teller, sampai officer kredit.

Kelak, bila Blockchain Revolusion seperti yang ditulis ayah-anak Don-Alex Tapscott menjadi kenyataan, maka bukan hanya mesin ATM yang menjadi besi tua, melainkan juga mesin-mesin EDC. Ini tentu akan merambah panjang daftar pekerjaan-pekerjaan lama yang akan hilang.

Jangan Tangisi Masa Lalu

Di beberapa situs kita pasti membaca kelompok yang menangisi hilangnya ribuan atau bahkan jutaan pekerjaan-pekerjaan lama. Ada juga yang menyalahkan pemimpinnya sebagai masalah ekonomi.  Tentu juga muncul kelompok-kelompok penekan yang seakan-akan sanggup menjadi “juru selamat” PHK.

Namun perlu disadari gerakan-gerakan itu akan berujung pada kesia-siaan. Kita misalnya menyaksikan sikap yang dibentuk oleh tekanan-tekanan publik seperti itu dari para gubernur yang sangat anti bisnis-bisnis online.

Mungkin mereka lupa, dunia online telah menjadi penyedia kesempatan kerja baru yang begitu luas. Larangan ojek online misalnya, bisa mematikan industri kuliner dan olahan rumah tangga yang menggunakan armada go-food dan go-send.

Berapa banyak tukang martabak yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan, rumah makan ayam penyet dan pembuat sabun herbal yang juga diantar melalui gojek.

Sama halnya dengan menghambat pembayaran noncash di pintu-pintu tol, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk memberikan pelayanan-pelayanan baru yang lebih manusiawi dan lebih aman.

Satu hal yang pasti, kita harus mulai melatih anak-anak kita menjadi pekerja mandiri menjelajahi profesi-profesi baru. Ketika mesin dibuat menjadi lebih pandai dari manusia, maka pintar saja tidak cukup.

Anak- anak kita perlu dilatih hidup mandiri dengan mental self-driving, self-power, kreatifitas dan inovasi, serta perilaku baik dalam melayani dan menjaga tutur katanya di dunia maya (yang sekalipun memberi ruang kebebasan dan kepalsuan).

Lawanlah “Shifting” dengan Inovasi

Secara sederhana, banyak orang yang paham bahwa permintaan pasar adalah fungsi dari daya beli (power) dan keinginan membeli (appetite).

Kalau soal daya beli, kita cukup bicara jumlah uang dan harga. Sedangkan keinginan membeli, dipengaruhi mood konsumen seperti berita-berita bagus atau buruk, persepsi terhadap hari esok, kejadian-kejadian yang membuat kita kehilangan appetite, retailer yang kurang promosi dan sebagainya. Maka meski uangnya ada, bisa saja seseorang menunda konsumsinya.

Bagaimana daya beli? Kalau harga-harga melambung naik, maka jelas jumlah yang bisa dibeli dengan uang yang sama berkurang. Lalu nilai penjualan yang diterima perusahaan-perusahaan pun bisa turun. Namun keuntungan yang diperoleh  belum tentu jatuh.

Sebab menentukan untung atau rugi, bagi perusahaan adalah sebuah kecerdasan sendiri.  Ada strategi dan ada  pilihan, kecuali mereka salah urus, tak merespons bahkan menyangkal perubahan.

Tetapi pengusaha tahu, saat ini secara umum inflasi cukup rendah. Bahkan rakyatnya punya beragam pilihan yang luas. Lalu kita membaca hasil yang dicapai dunia usaha pada semester I 2017 ini walaupun tak sepenuhnya buruk, namun cukup beragam.

Banyak yang bagus, juga ada yang  kurang beruntung. Ini berbeda dengan kondisi 1998-2000 yang dilanda krisis secara luas. Jadi unsur pertama ini tak terpenuhi.

Kedua, jumlah uang yang dimiliki konsumen. Misalnya Anda di-PHK perusahaan. Kalau PHK terjadi secara nasional, maka otomatis daya beli masyarakat turun. Atau, kalau pengusaha menurunkan gaji misalnya. Kejadian ini pun tak banyak terdengar. Kita hanya mendengar Sevel yang ditutup.

Pernah juga dikhawatirkan kalau subsidi-subsidi tertentu dicabut sehingga harga melambung. Atau bisa juga angkatan kerjabaru sulit mendapat pejerjaan, investasi pada sektor tertentu turun, inovasi baru mengakibatkan lapangan kerja tertentu bisa saja terbatas, persaingan global dan sebagainya.

Maka dampak inovasi pada setiap segmen tenaga kerja ini mutlak diperlukan untuk memperkuat perekonomian dan melakukan pemerataan.

Seharusnya semua itu bisa dihitung. Namun masalahnya semua berhubungan dengan asumsi yang dipegang peneliti dan kemampuan masing-masing dalam mensortir data. Sementara itu  gaya hidup masyarakat berubah begitu cepat dan kurang cepat dipetakan BPS.

Mixed Results

Jadi dengan data yang sangat umum, sampai saat ini, mungkin saja kesimpulannya  belum bisa kita tarik. Namun perlahan-lahan data baru juga berdatangan.

Berikut adalah data keuangan pertumbuhan penjualan beberapa perusahaan publik semester I/2017 yang diambil dari IDX:  Kalbe Farma 5,3 persen, Mayora 1,2 persen, Astra 11 persen; Ace Hardware 18 persen, HMSampoerna: -1,6 persen, Merck 5 persen, Sido Muncul -6,8 persen, Gudang Garam 8,9 persen, Unilever 2,5 persen, Ultra Jaya 0,9 persen, Prodia 3,7 persen, Semen Indonesia 1,9 persen, Indofarma 2,1 persen; Tempo Scan -2 persen, AlfaMidi 18,3 persen, dan Hero Supermarket -3,9 persen.

Dan menjadi sulit membaca  dampak daya beli secara nasional karena mixed result yang sekilas memang  masih positif.

Namun baiklah, anggap saja sebagian pelaku usaha lainnya belum mengumumkan prestasi yang dicapai. Saya sendiri menemukan gejala-gejala menarik di tengah kegalauan sebagian pihak yang sudah saya sampaikan dalam kolom minggu lalu.

Juga ditemukan fakta adanya perusahaan yang  penjualannya turun namun keuntungannya naik. Hero misalnya (keuntungan sebelum pajaknya malah naik 341 persen). Sebaliknya Mayora yang penjualannya  tumbuh hanya 1,2 persen, operating profitnya sudah minus 17 persen.

Apakah prestasi yang dicapai masing-masing perusahaan itu cerminan dari daya beli pasar pada segmen yang digeluti masing-masing pelaku usaha atau kualitas inovasi dan manajerialnya?

Ini tentu menjadi PR bagi para pelaku usaha, pemerintah dan peneliti agar tidak menimbulkan kebingungan.

Ini menjadi penting sebab bila eksekutif “salah membaca” dan beranggapan penurunan pendapatannya karena daya beli, maka ia akan memilih menunggu, bukan berinovasi atau memperbaiki business process-nya. Sebab mereka pikir, daya beli itu ada di luar kendalinya.

Pertanyaannya, andaikan benar itu masalah daya beli, apakah penjualannya kelak akan kembali lagi  setelah daya beli membaik?

Shifting Masih Terus Berlanjut

Maaf, saya perlu mengingatkan para eksekutif dan regulator agar lebih berhati-hati membaca sinyal-sinyal lembut perubahan yang terjadi kali ini.

Perubahan kali ini bersifat disruptif, bukan kontinum. Ia mengubah platform, bukan renovasi sesaat. Dan ia bisa merobohkan pelaku-pelaku lama (incumbent), seberapa pun kuatnya brand, reputasi atau penerapan ountinuous innovation.

Amati terus inovasi  disruptif  yang berpotensi menghancurkan lapangan pekerjaan kalau dikendalikan dari luar secara agresif.

Maka, selain aspek daya beli atau keinginan membeli yang perlu terus didalami itu kita masih akan mendengar nama-nama besar yang berpotensi bertumbangan walaupun saat ini masih menuai banyak keuntungan. Inovasi para pendatang baru yang masih kecil yang terkesan “membakar uang” jelas tak bisa diabaikan.

Harap Anda membacanya dengan penuh hati-hati. Sebab saat penjualannya turun besar-besaran dan harus dialihkan ke Microsoft, Nokia (2013)  tak berani menyalahkan daya beli. Walaupun pada saat yang sama, Kodak (2013) juga bangkrut.

Lalu tahun-tahun berikutnya (2016), penjualan hampir semua toko ritel di Amerika Serikat  juga ikut turun dan ratusan outlet toko milik Wallmart, Macy’s, Kohl’s, Sears ditutup di banyak lokasi. Padahal, di Amerika Serikat, Forrester dan eMarketer memperkirakan bisnis retail online  di AS pada akhir tahun ini baru mencapai sekitar 440 miliar dollar AS atau kurang dari 8 persen dari total sales retail.

Namun, meski persentasenya kecil, secara empiris hal itu sudah terbukti cukup melumpuhkan retailer-retailer konvensional besar di Amerika Serikat. Mungkinkah itu juga yang tengah terjadi di sini? Ia bisa saja menghancurkan secara selektif.

Lawan Dengan Inovasi

Perhatikanlah, saat diserahkan kepada Microsoft, CEO Nokia Stephen Elop berkata, “Tak ada keputusan manajerial yang salah, tetapi kita tiba-tiba merugi, kehilangan.”

Lalu PM Finlandia Alexander Stubb menyatakan penyebab rontoknya ekonomi negerinya ada pada Apple, yang mengakibatkan rating pinjaman negeri itu diturunkan Standard & Poor dari AAA ke AA+. “…..iPhone killed Nokia and the iPad killed the Finnish paper industry… “ Namun ia menyambutnya secara positif: “We’ll make a comeback,” lanjutnya.

Begitulah shifting terjadi. Bagi bangsa yang menghargai inovasi, ancaman dan gempuran tak dihadapi dengan tangisan, melainkan sikap produktif-inovatif.

Di lain pihak, shifting itu tak hanya terjadi dari dunia konvesional ke dunia online. Ia bisa terjadi dari satu pelaku ke pelaku lainnya. Waktu berjalan, ekonomi suatu bangsa berubah, teknologi berubah, generasi baru berdatangan dan gaya hidup ikut berubah.

Sama seperti Anda sebagai konsumen melakukan shifting dari membeli mobil bekas ke mobil baru, dari sepeda motor ke mobil LCGC, dari berobat di puskesmas ke rumah sakit, dari asuransi ke BPJS kesehatan (dan sebaliknya), dari rumah susun ke apartemen, dari beras ke mie instan, dari masak sendiri di rumah ke restoran, dari telepon kabel ke telepon genggam, dari tv berantena ke tv kabel, dan seterusnya.

Sekali lagi, pendapatan berubah, konsumsi berubah. Teknologi baru berdatangan memperluas pilihan. Gaya hidup mengubah banyak hal.

Oleh sebab itulah, penting bagi BPS, pemerintah dan para ekonom belajar kembali dan memotret habis perubahan gaya hidup masyarakat lebih sering lagi dan membangun tradisi inovasi.

Dan, karena kita hidup di negri kepulauan yang ekonominya beragam, sudah pasti potret ekonominya perlu dikelompokkan agar mudah dibandingkan. Rentang waktu 5 tahun untuk memotret gaya hidup  yang digeneralisasikan kota-desa dan pusat-daerah, sama sekali tak cukup. Jangan lupa kota-kota kecil telah berubah menjadi daerah urban yang padat.

Jadi shifting itu bukan semata-mata terjadi dari “konvensional” ke “online”. Konsumen bisa pindah dari pelanggan Rumah Sakit A ke B yang jaringannya lebih luas dan teknologinya up to date; dari sepeda motor buatan Jepang ke LCGC dan mobil-mobil murah buatan China; dari mainan anak-anak fisik (boneka dan mainan) ke fun games dan gym anak-anak; dari gedung perkantoran ke perumahan dan seterusnya.

Disruption terjadi dalam dua kategori. Pertama, pasar yang di bawah (low-end market) yang bisa menggerus pelaku usaha yang menbidik di atasnya. Atau yang kedua, benar-benar menciptakan pasar yang benar-benar baru.

Keduanya sama-sama berpotensi memindahkan rezeki yang bisa menghancurkan masa depan incumbents yang sudah bersusah payah membangun pasar dan menciptakan lapangan pekerjaan besar.

Anatomi Penjajahan Gaya Baru

Market atau pasar ‘benturan ideologi’ yang dimainkan manajemen kolonial sejak Perang Dunia (PD l), PD II dan Perang Dingin dalam koridor penjajahan kuno atau kolonialisme purba ternyata belum berakhir. Konflik sektarian. Ia masih dianggap sebagai menu tepat guna “mengaduk-aduk” negara target kolönialisme di beberapa negara, terutama negara berciri pluralistik, heterogen dan pernah memiliki sejarah kelam konflik ideologi seperti Indonesia, contohnya.

Betapa usai Perang Dingin, sesungguhnya market kolonialisme tak lagi membenturkan antarideologi lagi namun bergeser menjadi ‘benturan peradaban’ sebagaimana rekomendasi Samuel P Huntington dalam buku Clash of Civilization. Inilah era penjajahan gaya baru. Manajemen tidak lagi menghadapkan Kapitalis versus Monarkie seperti pada PD I, atau membenturkan Kapitalis melawan Fasis dalam PD II, ataupun mengadu antara Kapitalis vs Komunis pada Perang Dingin lalu.

Market pada penjajahan gaya baru adalah benturan antara Kapitalis vs Islam (militan). Itulah benturan antarperadaban Barat vs Islam. Kendati secara hakiki, Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Itu frase dari Tuhannya. Tetapi ketika dibawa ke ranah (geo) politik, pasar pun terbuka lebar. Berserak bahan-bahan devide et impera.

Mau pilih Islam radikal, Islam modern, Islam fundamental, atau pilih menu Islam tradisional? Seyogyanya umat muslim tidak terpancing dalam skema tersebut. Jangan lagi ditambah fabrikasinya seperti Islam nusantara, Islam sejati, garis lurus, dll. Itu larut pada skema pasar kolonialisme namanya. Cukupi sudah empat golongan Islam sebagaimana rekomendasi Rand Corporation, think tank Pentagon.

Ya, apabila ciri utama penjahan purba itu menduduki lalu merampas geoekonomi sebuah bangsa berpola konvensional ala militer yakni Bombardier – Kavaleri – Infanteri (BKI), maka penjajahan gaya baru berjalan senyap dengan pola nirmiliter. Isu – Tema – Skema (ITS). Tanpa letusan peluru tetapi mampu merampas kehidupan bangsa yang ditarget. Istilahnya “menyerang dari sisi internal,” langsung menukik pada sistem negara (peraturan dan per-UU-an). Sekali lagi, senyap, tanpa letusan peluru.

Pada era ini, peran militer dikurangi namun bukan berarti tak berfungsi, Indonesia contohnya — meski sistem (UU) yang ada telah dan cenderung membawa kekayaan bangsa ini lari keluar, tetapi dari sisi eksternal toh masih dikepung secara simetris. Ada sekitar 13-an pangkalan militer Amerika dan sekutu mengepung Indonesia. Artinya, pola militer dan nonmiliter nantinya bakal dimainkan secara simultan dengan intensitas berbeda. Tergantung situasi.

Shock and awe. Kekuatan militer bagi para adidaya kolonial sekarang sepertinya hanya diletak sebagai show of force, modus gertak menakut-nakuti.

Sejarah berulang. Tatkala era penjajahan purba, masyarakat dunia dan atau negara-negara yang terlibat disibukkan dalam rangka penyiapan dan antisipasi pola BKI – bombardier, kavaleri dan infateri.

Demikian pula di era penjajahan gaya baru. Meski tanpa asap mesiu, publik global digaduhkan oleh pola ITS. Isu, tema dan skema. Ditebar isu konflik antarmazhab, gaduh! Disebar isu flu burung, ramai! Demikian seterusnya. Segenap komponen bangsa di negara target kolonialisme, lazimnya dibuat lupa dan abai – deception – bahwa ujung kegaduhan tersebut adalah mencaplok geoekonomi yang intinya penguasaan food and energy security (pangan dan ketahanan energi). Istilahnya what lies beneath the surface.

Di atas permukaan dibikin lucu-lucuan. Bising. Gaduh. Sedang di bawah permukaan dan tersirat – dirampas secara diam-diam. Pertanyaannya sederhana, “Berapa juta ton emas Papua telah digali, sedang tak sedikit warganya masih memakai koteka? Berapa juta barel minyak dan gas Indonesia disedot, sementara kita malah impor?”

Belum lain-lain di bidang pangan (sembako) misalnya, atau kelautan, kehutanan, pertanian, perkebunan, dll. Inilah ironi geoekonomi. Itulah paradoks geopolik bagi Indonesia. Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada namun justru mengimpor garam; negeri agraris beriklim tropis dengan curah hujan tinggi tetapi impor ketela, jagung?

Pertanyaannya sekarang, kenapa semua terjadi di Bumi Pertiwi?