Bijak Hadapi Revolusi Industri 4.0

Dalam sebuah acara buka puasa bersama, Presiden Jokowi beramah-tamah dengan sekitar seratusan peserta, undangan khusus, sebagian besar anak muda dalam suasana lesehan sederhana.

Hanya sedikit dari mereka mengenakan jas atau batik, sebagaimana lazimnya mereka yang akan berhadapan dengan Presiden. Rata-rata usia peserta masih 30-an. Beberapa bahkan mengenakan kaus dengan tulisan tertentu di bagian depan.

Melihat suasana lesehan yang berdesak-desakan, secara kasat mata, pertemuan ini bagai sebuah jamuan kecil dan santai. Padahal di balik itu, ada kekuatan besar yang tidak bisa dianggap remeh.

“Satu atau dua orang yang hadir di sini, punya pengaruh terhadap 20 sampai 30 juta penduduk Indonesia,” kata pembawa acara.

Bahkan, sebenarnya bisa lebih dari itu karena yang datang adalah praktisi digital terkuat. Ada perwakilan dari Facebook, Google, Apple, pemilik market place, blogger berpengaruh, serta pebisnis besar digital industri. Saya sendiri (diwakilkan), diundang dalam kapasitas sebagai salah satu pendiri Komunitas Bisa Menulis atau KBM, salah satu komunitas penulis terbesar di Facebook.

“Secara singkat, peserta di sini bisa menjangkau segenap rakyat Indonesia.” lanjut pembawa acara. Kalimat sederhana itu mewakili apa yang bisa terjadi pada masa depan.

Buka puasa bersama kali ini memang bertemakan “Masa Depan dan Konsep Indonesia 4.0”. Presiden Jokowi kembali menegaskan, betapa Indonesia harus siap menghadapi revolusi Industri ke-4 yang menurut sang Kepala Negara, kecepatannya 3.000 kali lipat lebih cepat dari revolusi industri lainnya.

Jika alih teknologi industri pada masa lalu memerlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk berpindah ke lokasi lain, pada era internet ini hanya memerlukan beberapa detik. Perubahan di Amerika bisa langsung berpengaruh ke Indonesia.

Anak-anak muda yang hadir sangat mungkin menjadi representasi gambaran masa depan.

Jumlah sedikit orang akan memengaruhi begitu besar perubahan. Salah satu indikasi yang akan terjadi ketika internet menguasai dunia, dan ini sudah terbukti. Tercatat sebuah lembaga survei bisa mempengaruhi hasil pemilihan presiden di Amerika. Sebuah twit influencer yang tidak lebih dari 140 karakter, mampu membuat perusahaan Snap Chat rugi triliunan.

Tidak ada simbol dan formalitas dalam komunitas digital, semua bergantung kualitas. Lihat Mark Zuckerberg pemilik Facebook, kesehariannya hanya memakai kaus oblong. Sergey Brian pemilik Google, bisa menemui pejabat sekelas kepala negara dengan celana selutut yang sangat informal. Mereka tidak lagi dilihat berdasarkan penampilan, sebab gerak-geriknya jelas berpengaruh terhadap ratusan hingga miliaran manusia di dunia.

Tidak ada seleksi ketat dalam strata industri digital. Untuk menjadi anggota DPR, seorang politikus harus berjuang lama, melakukan kampanye dan menghabiskan biaya besar. Para influencer digital, sanggup memberi pengaruh tidak kalah kuat, tanpa melewati seleksi formal. Mereka dapat memberi sugesti besar tanpa melewati prosedur rumit formal.

Meski demikian, sebuah perubahan ada harga, juga dampaknya. Termasuk revolusi 4.0.

Ketika e-toll diberlakukan, puluhan ribu pekerja kehilangan penghasilan tetap. Ketika taksi daring merebak, taksi konvensional banyak yang gulung tikar. Jika itu harga sebuah perubahan, memang tetap harus dibayar, sekalipun demikian perlu sebelumnya diantisipasi.

Namun, perubahan ini juga mempunyai dampak. Hoaks bukan harga perubahan yang harus dibayar, melainkan dampak negatif industri 4.0. Satu orang bisa merusak nasib satu pihak atau meruntuhkan kebaikan yang dirintis puluhan tahun hanya dengan sebuah hoaks yang viral.

Di dunia penerbitan dampaknya lebih terasa. Perubahan buku konvensional menjadi e-book memberikan harga perubahan yang berimbas pada tersebar luasnya penjualan buku bajakan di internet. Jika dulu seseorang harus ke pasar ilegal untuk membeli buku bajakan, kini dengan handphone di tangan siapa saja bisa dengan mudah membeli buku bajakan secara daring di toko daring resmi.

Sayangnya, pembeli sering tidak tahu mana buku asli dan bajakan karena pada gambar display semua terlihat sama.

Untuk sebuah bangsa yang masih berjuang meningkatkan minat baca, jika tidak diantisipasi dini, bisa jadi pada masa depan dunia penerbitan konvensional hancur, buku-buku tidak terbit dan dampaknya – anak Indonesia hanya bergantung pada informasi digital yang sebagian besar sulit dipertanggungjawabkan.

Tugas pemerintah bukan hanya menggalakkan Industri 4.0 melainkan menyiapkan langkah antisipasi atas berbagai dampak yang akan terjadi. Tanpa itu, industri ini bukan menjadi awal kemajuan, malah menjerumuskan banyak orang dalam kehancuran.

Asma Nadia

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.